Opini

KHILAFAH IS ME

Pembahasan istilah ‘khilafah’ sangat menarik. Hal ini tidak akan lekang oleh masa. Sebab, istilah khilafah masuk pada ranah politik yang unik. Setiap peristiwa politik bersifat dinamis. Bisa jadi peristiwanya sudah pernah terjadi, namun diperbaharui demi kepentingan rezim berkuasa. Khilafah, selain sebagai bagian dari ajaran Islam, juga memiliki nilai politis tersendiri.

Andai khilafah tidak ada sangkut paut dengan politik, niscaya pembahasan khilafah tidak akan meramaikan jagat politik. Studi peristiwa politik Indonesia di era keterbukaan dan liberalisasi politik, khilafah muncul dalam pembahasan publik. Sayangnya, gambarannya kerap diidentikan jelek dan kuno. Parahnya, sering dikaitkan dengan tindakan ekstrimisme dan terorisme yang seolah mengancam negeri ini.

Jika mau jujur, negeri ini pasti hancur. Sebab manusia yang rakus kuasa tak mempedulikan manusia lainnya. Fokus dan tujuannya pada kebahagiaan materi dan menindas manusia lainnya. Gaya politiknya despotik. Aturannya kerap membungkam sikap kritis. Perangainya mewarisi neo-diktatoris. Sungguh, menjadikan khilafah sebagai bahan dan amunisi untuk memukul Islam dan umatnya merupakan tindakan konyol.

Ke depan khilafah akan menjadi politik gaya baru. Istilah anak zaman now akan menjadi challenge. Sudah berapa banyak challenge yang kerap diikuti publik, semisal Lathi Challenge. Nah, ke depan Khilafah akan menjadi challenge dengan sebutan ‘Khilafah is Me’. Mengapa ini bisa terjadi? Mari simak beberapa analisisnya:

/Pertama/, Khilafah Now, Demokrasi Kuno. Demokrasi sebagai bagian dari politik ideologi kapitalisme tampaknya akan mengakhiri masanya. Demokrasi akan menjadi barang antik yang tak lagi cantik. Publik akan memandang demokrasi ketinggalan zaman karena tak bisa mengakomodasi banyak kepentingan manusia. Bukankah orang benci dihina semisal rasisme? Bahkan demokrasi tak mampu meniadakan rasisme. Asas kebebasan yang jadi landasan, malahan menyuburkan rasisme.

Ramalan akhir hayat demokrasi sudah di depan mata. Sebagaimana fitrah manusia, dalam hidup pasti butuh alternatif baru untuk menumbuhkan keamanan dan kenyamanan. Nah, hal itu hanya ada pada Islam dalam sistem khilafah.

/Kedua/, Khilafah Yes, Semua Beres. Hal ini sangat menarik, sebab Islam hadir sebagai solusi bagi persoalan kehidupan. Apapun masalahnya, Islam solusinya. Persoalan pemerintahan, Islam memiliki seperangkat negara beserta aturannya yang bersanad sampai Rasulullah. Persoalan kemiskinan, Islam memiliki aturan yang mewajibkan setiap penguasa mengurusi rakyatnya dari sandang, pangan, dan papan. Persoalan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) Islam meminta agar tidak ada monopoli asing dan swasta. Sebab, kekayaan itu milik rakyat yang harus dikembalikan kepada rakyat.

Islam hadir bukan sebagai beban, tapi solusi kehidupan. Berbeda dengan kapitalisme dan sosialisme yang hadir malah menjadi beban kehidupan. Manusia menjadi korban. Alam semesta hancur tak karuan. Hidup semakin sempit dan ruwet.

/Ketiga/, Khilafah Now and Tomorrow. Siapapun yang tetap berpengang teguh pada politik demokrasi akan menjadi basi. Siapapun yang berpolitik untuk menegakkan agama Allah, pasti akan memegang teguh janji Ilahi. Khilafah ala Minhajinubuwwah menjadi sinar baru dalam peradaban dunia. Ini bukan roman picisan atau dongeng seribu satu malam. Ini merupakan kalam dari lisan mulia Muhammad panutan alam. Pun janji Allah Sang Pengatur kehidupan.

Kini khilafah kian menggelinding. Orang yang tak suka makin banyak missleading. Opini yang membahana kian mendekatkan perwujudannya. Khilafah bukan hantu, tapi ia nyata. Senyata bahwa matahari besok masih bersinar dari timur dunia. Khilafah adalah saya. Challenge terbaru di abad keruntuhan kapitalisme dan sosialisme. Jujur berkata tentang khilafah, hidup kian berkah. Dusta bicara khilafah, hidup bubrah dan sempit hatinya. So, Khilafah is Me. [Wallahua’lam bis showab]

Oleh: Hanif Kristianto (Analis Politik-Media di Pusat Kajian dan Analisis Data)

0Shares

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: