Opini,  Tema Ditentukan,  WCR

JIKA PERKARA JODOH, JANGAN BILANG TERSERAH

Ramadan berlalu datanglah Syawal. Jomblo mana yang tak baper mendengar bulan syawal, selain enam hari puasa sunah, ada menikah dibulan Syawal yang diburu pasangan yang akan menikah.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan Syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang manakah yang lebih beruntung di sisiNya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu’anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim)

Kebiasan orang Jahiliyah menjadikan bulan Syawal sebagai bulan sial untuk menikah sehingga Islam hadir untuk menghapus paradigma itu dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikah di bulan tersebut. Tidak masalah di bulan apapun, Insha Allah setiap bulan itu baik, yang tak baik jika si Dia belum kunjung datang (yang penting harus tetap ikhtiar dan berdoa kepada Allah).

Siapa saja tentu sepakat bahwa pernikahan adalah ibadah sepanjang hidup. Menentukan siapa yang akan menjadi pendamping itu yang terpenting, adanya penetapan kriteria jauh lebih penting. Walaupun Indonesia sempat diramaikan oleh tagar “TERSERAH” tapi jika perkara kriteria jodoh jangan bilang terserah. Karena akan menghabiskan waktu sepanjang hidup dengan ia yang telah dipilih. Jadikan Islam sebagai penentu kriteria, karena bahagia itu persepsi. Kita memandang seseorang yang gendut, hitam, pendek, pesek itu jelek karena persepsi. Memandang seseorang yang bekerja dikantoran atau pegawai itu hight class juga karena persepsi. Ubah saja persepsi maka semua akan berubah. Karenanya jadikan Islam sebagai dasar membentuk persepsi. Jika menikah berstandar Islam jelas kriteria utama tak akan muluk-muluk. Persepsi akan membangun cara pandang tentang menikah sesuai kriteria Islam.

Betapa banyak kasus perceraian, mulai dari yang sama-sama kaya berharta, tampan dan cantik, pasangan terkenal juga tak luput dari kawin cerai. Kenapa bisa begini? Apa yang salah? Bisa jadi karena dasar menetapkan kriteria yang rapuh. Jika menikah karena harta, saat harta habis luruhlah pernikahan. Jika menikah karena rupa saat rupa kehilangan keindahan pudarlah pernikahan. Jika menikah karena popularitas, saat popularitas redup kandaslah pernikahan. Karena pada dasarnya kita akan dipertemukan dengan apa yang kita cari. Jika yang dicari dunia  maka yang kita dapatkan hanya sebatas dunia.

Mempersatukan dua orang asing tentu sangat dibutuhkan pengetahuan mendalam tentang keduanya agar tak salah dalam memilih. Penting juga menetapkan tujuan agar pernikahan terarah. Sama-sama menyamakan frekuensi berfikir sehingga selaras dengan kriteria yang telah ditetapkan. Islam kembali memperlihatkan keagungan dan kesempurnaanya dalam pengaturan ini. Proses menuju pernikahan yang dibalut apik tanpa ada celah menuju kemaksiatan. Islam sangat menjaga proses tersebut.

/Menikahlah Karena Butuh/
Sebagai seorang muslim derajat tertingginya adalah sebagai seorang hamba Allah. Begitu juga dalam pernikahan, bagaimana pernikahan akan menghantarkan keluarga yang dibangun menjadi hamba Allah untuk menjemput Jannah. Bagi pejuang agama Allah maka pasangan yang dibutuhkanya adalah pasangan yang saling mendukung perjuangan Islam. Agar kehidupan secara utuh diatur kembali oleh Alquran.

Butuh kelapangan hati satu sama lain karena beban dan persoalan-persoalan dalam perjuangan itu tidak ringan.  Tidak menjadikan masalah kecil dibesar-besarkan. Berusaha menjadi pemaaf dalam lingkungan kehidupan sehingga kita tetap fokus pada Iqamatuddin.

Butuh kerjasama dalam kehidupan rumah tangga, saling berbagi peran karena pasangan adalah sahabat untuk saling menguatkan. Saling menebar energi positif, menyebar rasa optimis agar terwujud optimisme dalam Iqamatuddin dan melahirkan generasi-generasi qurani.

Saling menerima kekurangan dan kelebihan. Menjadikan syariat sebagai panduan dalam menjalankan segala aktivitas agar riak dan gelombang yang menghantam dapat direda. Sungguh indah jika menikah karena Allah.

Jadi, jika belum memiliki kriteria maka tentukan sekarang, jangan pernah bilang terserah untuk kriteria jodoh. [Wallahua’lam bis showab]

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: