Opini

INDONESIA DARURAT PROSTITUSI AKIBAT ADOBSI KEBEBASAN PERILAKU

Dilansir dari Kompas.com (15/7/20) Artis FTV, foto model dan sekaligus selebgram, berinisial H (23), minta maaf kepada keluarga dan masyarakat Medan setelah tersandung kasus dugaan prostitusi online. Ia melakukan prostitusi karena tergiur keuntungan ekonomi yang cukup besar dengan bayaran Rp 20 juta.

Kasus terbongkarnya prostitusi online ini bukanlah masalah baru dan sepertinya telah mengakar di Indonesia. Pertanyaannya, mengapa prostitusi atau pelacuran di Indonesia masih tetap berlangsung meskipun prostitusi dinilai masyarakat Indonesia sebagai perbuatan yang melanggar nilai dan norma masyarakat?

Prostitusi terus tumbuh subur karena dijadikan sebagai ajang bisnis. Hukum penawaran dan permintaan berlaku. Begitulah wajah kapitalisme demokrasi. Perempuan dihargai dari sisi materi dan dijadikan sebagai komoditas yang diperdagangkan. Kehormatan dan kesucian perempuan sudah tidak diindahkan lagi dan rela dikorbankan begitu saja demi sejumlah rupiah. Para perempuan menjadi begitu “murah”, bisa dibeli dengan uang, melayani nafsu biadab para lelaki hidung belang.

Gaya hidup liberal yakni lepas dari tuntunan agama semakin mewarnai kehidupan masyarakat. Rendahnya ketakwaan dan tuntutan gaya hidup konsumtif lagi mewah adalah pendorong langsung maraknya prostitusi online. Meski faktor kemiskinan juga seringkali menjadi alasan.

/Solusi Islam Menyelesaikan Prostitusi/
Penerapan aturan Islam secara totalitas sebenarnya menjadi solusi tuntas mengatasi prostitusi. Islam merupakan sistem kehidupan, apabila sistem tersebut diambil hanya sebagiannya saja kemudian yang lainnya tidak diterapkan maka yang terjadi malah kekacauan. Maka solusi satu-satunya dalam menuntaskan masalah prostitusi dan turunannya adalah dengan menerapkan aturan Islam secara sempurna.

Islam menetapkan lima jalur yang harus ditempuh untuk mengatasi maraknya prostitusi:
/Pertama/ Penegakan hukum atau sanksi tegas kepada semua pelaku prostitusi atau zina. Tidak hanya mucikari atau germonya. PSK dan pemakai jasanya yang merupakan subyek dalam lingkaran prostitusi harus dikenai sanksi tegas. Hukuman di dunia bagi orang yang berzina adalah dirajam (dilempari batu) jika ia pernah menikah, atau dicambuk seratus kali jika ia belum pernah menikah lalu diasingkan selama satu tahun. Jika di dunia ia tidak sempat mendapat hukuman tadi, maka di akhirat ia disiksa di neraka. Bagi wanita pezina, di neraka ia disiksa dalam keadaan tergantung pada payudaranya.

/Kedua/ Penyediaan lapangan kerja. Faktor kemiskinan yang seringkali menjadi alasan utama PSK terjun ke lembah prostitusi tidak perlu terjadi bila negara memberikan jaminan kebutuhan hidup setiap anggota masyarakat, termasuk penyediaan lapangan pekerjaan, terutama bagi kaum laki-laki. Perempuan semestinya tidak menjadi pencari nafkah utama bagi keluarganya.

/Ketiga/ Pendidikan atau edukasi yang sejalan. Pendidikan bermutu dan bebas biaya harus memberikan bekal ketakwaan selain kepandaian dan keahlian pada setiap orang agar mampu bekerja dan berkarya dengan cara yang baik dan halal. Pendidikan juga menanamkan nilai dasar tentang benar dan salah serta standar-standar hidup yang boleh diambil dan tidak. Sehingga apapun alasan PSK untuk kembali ke tempat prostitusi tidak akan terjadi bila ada penanaman kuat tentang standar benar dan salah.

/Keempat/ Jalur social, pembinaan untuk membentuk keluarga yang harmonis merupakan penyelesaian jalur sosial yang juga harus menjadi perhatian pemerintah. Hal lain adalah pembentukan lingkungan sosial agar masyarakat tidak terbuka dan membolehkan kemaksiatan sehingga pelaku prostitusi akan mendapat sanksi dan kontrol sosial dari lingkungan sekitar.

/Kelima/ Melalui jalur politik, penyelesaian prostitusi membutuhkan diterapkannya kebijakan yang didasari syariat Islam. Harus dibuat undang-undang yang tegas mengatur keharaman bisnis apapun yang terkait pelacuran. Tidak boleh dibiarkan bisnis berjalan berdasar hukum permintaan dan penawaran belaka tanpa pijakan benar dan salah sesuai syariat. Negara tidak hanya harus menutup semua lokalisasi, menghapus situs prostitusi online tapi juga melarang semua produksi yang memicu seks bebas seperti pornografi lewat berbagai media.

Menilai Indonesia darurat gaya hidup liberal yang lahir akibat diadopsinya sistem demokrasi yang menuhankan kebebasan perilaku. Darurat prostitusi dengan beragam modelnya, darurat narkoba dan miras adalah buah busuk  sistem ini. 

Karenanya seluruh masyarakat sesungguhnya membutuhkan negara yang menerapkan syariat Islam secara sempurna dan negara yang mampu menerapkan syariat Islam ini dalam bentuk Khilafah Islamiyah. [Wallahu a’lam bishshawab]

Oleh: Jernih Hari Siagian

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: