Analisis,  NulisPedia

IMPOR ALAT KESEHATAN DAN OBAT: INDONESIA DI BAWAH TEKANAN KORPORASI GLOBAL

Isu mafia alat kesehatan (alkes) menjadi sorotan di tengah hiruk-pikuk pemberitaan tentang pandemi Covid-19. Menanggapi pernyataan blak-blakan Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Arya Sinulingga yang menyebut adanya mafia besar alat kesehatan dan obat di Indonesia. Mengingat, hampir semua bahan baku alat kesehatan dan obat beli dari luar negeri. Dikutip dari YouTube Kompas TV (18/4/2020), Mentri BUMN menyampaikan bahwa beliau melihat urusan kesehatan ini lebih dari 90 persen bahannya impor. Kemudian bahan baku obat-obatan juga 90 persen impor. Hal ini dilihat oleh Pak Menteri sebagai kondisi yang mengancam bangsa kita apabila terjadi sesuatu.

Menurutnya, Indonesia hanya dijadikan tukang jahit oleh negara lain. Mengingat, banyaknya pabrik yang didirikan di Indonesia, dan bahan baku yang dibawa dari luar negeri. Saat kejadian corona, Indonesia hanya ibarat sebagai tukang jahitnya, bahan-bahan dari luar negeri semua. Pak Erick Thohir menyatakan bahwa, “kita terlalu sibuk selama ini dengan trading, tidak berusaha membangun industri dalam negeri untuk mengadakan alat kesehatan, dan corona ini jelas membuka mata kita,” ungkapnya.

Kondisi ini menunjukkan adanya mafia-mafia besar, baik lokal maupun global yang mungkin bergabung, yang akhirnya membuat bangsa kita hanya sibuk berdagang, bukan sibuk produksi. Padahal yang terjadi pada negeri ini sangat kekurangan berbagai alat kesehatan dan minimnya obat-obatan bahkan pada akhirnya rakyat yang berusaha sendiri berbondong-bondong mengumpulkan dana donasi untuk memenuhi alat kesehatan ADP untuk para nakes dikondisi saat ini. Rezim bahkan negara nampak abai dan cuci tangan atas apa yang terjadi pada rakyatnya dan semakin nampak carut marutnya negeri ini dengan adanya tekanan korporasi global yang mendesak negeri ini untuk tetap melakukan aktivitas impornya.

Nampak jelas akan adanya para bedebah mafia dari segelintir oknum-oknum yang terus menekan dan mengancam negeri. Tak ayal kejadian ini akan terus berlanjut, tidak hanya pada aspek kesehatan saja dan akan terus menjadi dalang dari sistem yang mengatur negeri ini. Sehingga penguasa tak bisa berkutik menjadi pelindung atas negeri yang telah menjadi korban atas bengisnya mafia-mafia korporasi global dan rakyatlah yang akan terus terkena imbasnya.

Ketidakmampuan ini terlihat jelas atas ketergantungan Indonesia terhadap korporasi global. Indonesia telah dijamah dan dijajah dengan jeratan hutang yang sangat besar dan menjadikan negara ini tunduk atas setiap tekanan antek. Praktik mafia sebenarnya bukan cerita baru di Indonesia. Kegiatan impor ditenggarai menjadi arena bermain para mafia. Gurihnya keuntungan impor membuat mereka berupaya agar pintu impor terus dibuka sebesar-besarnya. Di tahun lalu, mengutip data asosiasi produsen alat kesehatan Indonesia atau aspaki, nilai pasar alat kesehatan mencapai 13,5 triliun rupiah. Nilai ini mayoritas didominasi asing dengan porsi 92 persen, dan sisanya lokal hanya 8 persen. Besarnya value asing inilah, yang ditengarai ada permainan bisnis alat kesehatan.

Kembali melihat keadaan negeri ini yang tidak sedikit paramedis terpaksa memeriksa pasien dengan menggunakan jas hujan sebagai Alat Pelindung Diri (APD) dalam menghadapi wabah virus Corona (Covid-19), karna sangat minimnya dan terbatasnya pengadaan APD untuk para nakes lokal.

Tekanan korporasi global terhadap negeri ini tak lepas dari dominasi kapitalisme dengan asas manfaat yang senantiasa mencari keuntungan bahkan dalam kebijakan ekonominya. Sungguh negeri ini harus segera melepaskan diri dari jeratan kerakusan kaum kapitalis. Negeri ini butuh pemerintahan yang mandiri tanpa adanya lakon dalang dibalik tabir tata aturan negara dan bahkan dunia membutuhkan kepemimpinan yang adil dan telepas dari keserakahan sistem kapitalis.

Maka tak bisa dipungkiri, dunia membutuhkan satu kepemimpinan dan satu aturan yang terkomando adil oleh satu pemimpin yang menegakkan sistem aturan hukum syara’ atas dunia global. Sehingga akan jauh dari adanya sifat kerakusan kaum kapitalis. Kedzoliman suatu kaum akan terus mencederai jika negara dan dunia ini masih mengadopsi sistem aturan yang berasakan manfaat saja di dalamnya.

Wallahu a’lam bissowab

Oleh : Arifah Azkia N.H (Aktivis Mahasiswi Surabaya)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: