Opini

ILUSI KESETARAAN GENDER

Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang memperjuangkan emansipasi atau persamaan hak sepenuhnya antara kaum laki-laki dan perempuan. Baik itu di ranah politik, ekonomi, pendidikan dan juga sosial. Intinya, perempuan harus diberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam hal kebebasan dan pengembangan diri.

Menurut mereka ada berbagai macam persoalan yang terjadi di Indonesia diantaranya, Pertama, soal perkawinan anak dan persoalan reproduksi. Kedua, perempuan yang harus bebas dari kekerasan akibat kebijakan diskriminatif. Ketiga, kemiskinan perempuan yang disebabkan oleh berbagai macam faktor

Kekeliruan mereka berawal dari pandangan bahwa kaum perempuan berada pada posisi yang lemah dalam hierarki sosial. Posisinya yang sering kali menjadi subordinat alias pelengkap posisi laki-laki, meniscayakan perempuan selalu menjadi korban dalam setiap interaksinya.

Dikatakan keliru karena segala permasalahan diatas disebabkan oleh sistem kehidupan yang sekuler dan liberal. Selain faktor ekonomi, sebagian besar pernikahan dini terjadi karena banyaknya generasi muda yang minim ilmu dan agama, ditambah tayangan media yang dibebaskan merangsang seksualitas mereka serta gaya hidup bebas. Bukannya mengerem dan mengendalikan hawa nafsu muda mereka, akan tetapi jusru melakukan aksi coba-coba. Istilah panggilan mama dan papa pun sempat tren dikalangan bocah-bocah ingusan yang berperilaku layaknya orang dewasa yang telah menikah.

Tentang diskriminatif, siapa yang menggaji perempuan dengan lebih murah ketimbang buruh laki-laki? Siapa yang mengeksploitasi para perempuan? Memeras tenaga mereka, menempatkan wanita cantik sebagai magnet pembeli dari produk mobil mewah hingga kambing kurban. Apakah ini bentuk memuliakan wanita?

Adapun kemiskinan, tidak saja dirasakan kaum perempuan akan tetapi juga kaum laki-laki karena faktor utamanya adalah negara tidak pernah hadir untuk memberi lapangan pekerjaan yang luas dan layak bagi kaum laki-laki selaku kepala rumah tangga dan penanggung jawab kesejahteraan bagi istri dan keluarganya.

Akhirnya demi mencukupi kebutuhan keluarga, maka sang istri terpaksa ikut berjuang mencari nafkah dengan meninggalkan kewajiban pengasuhan anaknya kepada kakek/neneknya, saudaranya ataupun kepada pembantunya.

Kurangnya waktu yang dihabiskan oleh ibu yang bekerja dalam mengasuh anak-anak mereka juga telah dianggap oleh banyak orang sebagai salah satu penyebab dari tingkat signifikan perilaku nakal dan anti-sosial di antara kaum muda yang melanda banyak masyarakat saat ini, serta mempengaruhi kesejahteraan mental dan kinerja pendidikan

Sejumlah besar perempuan tidak menjadi lebih kaya, sebaliknya, mereka bekerja hanya untuk membayar orang lain untuk memelihara dan membesarkan anak-anak mereka untuk ‘memberi makan’ ekonomi.

Ide-ide feminisme, khususnya kesetaraan gender, juga menghasilkan kebingungan dan perselisihan berkaitan dengan tanggung jawab pernikahan dan pengasuhan anak.

Pernikahan menjadi lembaga yang didominasi oleh persaingan antara gender tentang peran dan tugas, bukannya menjadi kesatuan yang harmonis yang dibentuk oleh suami dan istri yang memenuhi kewajiban pernikahan dan keluarga yang telah tetap dan saling melengkapi.

Pernikahan juga menjadi medan perang tentang pilihan-pilihan dan hak-hak pribadi, bukannya ikatan persahabatan yang ditentukan oleh cinta, rahmat, dan tanggung jawab pasangan terhadap satu sama lain. Feminisme juga membuat perempuan percaya bahwa mereka dapat mengambil peran sebagai suami dan ayah, dan karenanya, ‘tidak perlu ada seorang laki-laki’ di rumah.

Bagi banyak perempuan yang menghadapi masalah-masalah pernikahan, hal ini menyurutkan dorongan untuk menyelesaikan kesulitan dan tantangan dalam pernikahan mereka, malah lebih memilih untuk serta merta beralih pada pilihan perceraian.

Perselisihan dalam pernikahan ini juga meningkatkan kekerasan dalam pernikahan, merusak keharmonisan kehidupan keluarga dan menyebabkan peningkatan perceraian.

Oleh karena itu, aneh sekali jika ketetapan Islam tentang peran kedua gender dalam kehidupan keluarga dilabeli tidak adil bagi perempuan, dan kewajiban Islam atas laki-laki untuk menjadi pencari nafkah bagi keluarga digambarkan sebagai terbelakang dan bertentangan dengan kebebasan perempuan, sementara kaum perempuan malah ditinggalkan di bawah kedok ‘Kesetaraan Gender’ untuk mencari nafkah sendiri dianggap adil dan membebaskan. Ini adalah pandangan irasional yang mengabaikan ketidakadilan nyata yang ditempatkan pada perempuan dan anak-anak oleh cita-cita feminis ini.

Feminisme, dan cita-cita kesetaraan gendernya, merupakan konsep yang cacat secara rasional dan merusak secara sosial, yang telah menimbulkan banyak kerusakan pada harmoni dan kesatuan kehidupan keluarga serta kesejahteraan anak-anak.

/Tolak Feminisme dan Kembalikan Sistem Islam/

Melihat akar masalah diatas, memperjuangkan kesetaraan gender untuk mengentaskan persoalan perempuan hanyalah fatamorgana. Terbukti tidak membawa kebaikan bagi perempuan namun justru membawa berbagai dampak buruk bagi perempuan dan keluarganya terutama bagi masa depan anak-anaknya.

Di dalam Islam anak-anak hidup dalam suasana belajar dan edukasi Islami jauh dari pergaulan bebas dan jauh dari rangsangan seksual. Karena negara menerapkan sistem kurikulum pendidikan Islam dengan penanaman akidah dan mengontrol segala informasi baik di media televisi, majalah, radio ataupun media sosial. 

Islam mewajibkan kepada suami atau para wali untuk mencari nafkah (QS Al-Baqarah 233, QS An-Nisa 34), negara wajib menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki agar dapat memberi nafkah pada keluarga mereka, memberikan pendidikan dan pelatihan kerja, bahkan jika dibutuhkan akan memberikan bantuan modal.

Sedangkan perempuan tidak harus bekerja, tidak ada pihak mana pun yang berhak untuk memaksa seorang perempuan bekerja. Mereka tidak perlu berpayah-payah mendapatkan uang karena telah dipenuhi suami atau walinya.

Meski perempuan tidak bekerja dan tidak mempunyai uang, kedudukan mereka tidak menjadi rendah di depan suaminya dan berpeluang besar dianiaya. Sebab, istri berhak mendapatkan perlakuan baik dari suaminya dan kehidupan yang tenang.

Setiap pasangan suami istri dan anggota keluarganya akan selalu saling menguatkan dan akan berusaha berkomitmen melaksanakan kewajiban yang ditetapkan Islam untuknya.

Tidak akan muncul anak-anak yang ditelantarkan, kaum perempuan yang dipaksa atau terpaksa bekerja, maupun para bapak yang menganggur.

Pelaksanaan aturan Islam secara kaffah oleh negara akan menjamin kesejahteraan ibu dan anak-anaknya, baik dari aspek keamanan, ketenteraman, kebahagiaan hidup, dan kemakmuran.

Oleh: Nabila Zidane (Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: