Opini

I CAN’T BREATHE! JERITAN TANPA MAKNA BAGI KAUM RASIS ANARKIS PRODUK PERADABAN BARAT!

Nama George Floyd tiba-tiba menjadi sumber kehebohan di Amerika Serikat. George adalah seorang pria kulit hitam berusia 46 tahun. Ia tewas usai lehernya ditekan oleh lutut Derek Chauvin, salah satu dari empat polisi Minneapolis yang menahannya. Sebagaimana dilansir AFP, George ditangkap karena diduga melakukan transaksi memakai uang palsu senilai US$ 20 (Rp 292 ribu) pada Senin (25/5/2020) lalu.

Penangkapan George yang terekam dalam sebuah video yang menjadi viral tersebut memperlihatkan Chauvin menekan leher George. Padahal ia dalam keadaan sedang diborgol dan menelungkup di pinggir jalan, selama kurang lebih tujuh menit. Dalam video itu terlihat George berkali-kali merintih kesakitan dan mengaku sulit bernafas serta terus mengatakan, “I can’t breathe.” Ia bahkan sempat menangis dan memanggil ibunya sesaat sebelum tewas.

Hal ini memicu kemarahan publik, khususnya warga kulit hitam. Mereka meminta pertanggungjawaban atas kasus pembunuhan tersebut. Bukan hanya itu, kemarahan menjalar menjadi protes, yang melanda kota-kota besar di AS. Kerumunan orang turun ke jalan untuk menuntut kebrutalan polisi dan pertanggungjawaban atas beberapa kematian warga kulit hitam di tangan mereka. Mereka mengangkat tulisan yang menuntut keadilan bagi beberapa orang kulit hitam Amerika terbunuh belum lama ini, yakni George Floyd, Ahmaud Arbery, dan Breonna Taylor. (CNBCIndonesia.com. 31/05/2020).

Seperti yang diberitakan di atas bahwa kasus kekerasan terhadap warga kulit hitam (black people) bukankah hal yang baru. Persamaan hak dihadapan hukum dan politik di dalam peradaban Barat sangat getir diperjuangkan oleh warga kulit hitam di Amerika. Padahal mereka adalah etnis asli (indigenous) dari benua Amerika. Dunia tentu ingat suku indiana pedalaman yang merupakan penduduk asli benua Amerika.

Namun, setelah terjadi akspansi dan penjajahan ideologi Barat, para etnis pribumi sangat sering mendapatkan pengucilan, pengusiran hingga pembantaian dari para pendatang yang tujuannya adalah menjajah dan menjarah (gold, glory, gospel). Mereka mengklaim sebagai pembawa pembaharuan dan kemoderenan serta paham superior sebagai ras kulit putih. Lalu memperlakukan warga kulit hitam sebagai budak (slave).

Meskipun negara Amerika dan Eropa  menjunjung kebebasan dan anti rasis, tetapi di belakang layar semuanya adalah kepalsuan. Warga kulit hitam sampai saat ini tetap dianggap warga kelas dua dan sering mendapatkan ketidaknyamanan dalam kehidupan mereka. Istilah bangsa budak (slave) masih dilekatkan oleh warga Amerika yang merasa superior dengan ras putihnya. Apalagi Amerika telah dikuasai oleh ras kulit putih selama puluhan tahun.

Perjuangan ras kulit hitam yang sangat terkenal di dunia adalah perjuangan Malcom X. Seorang muslim ras hitam yang sangat ditakuti oleh politikus kulit putih Amerika saat itu. Bahkan kutipan-kutipan pidatonya masih tetap hidup hingga hari ini. Malcom x menyampaikan ajaran Islam di setiap kesempatan publik. Ia juga dengan terang menyampaikan kemuliaan ajaran Islam yang memandang manusia anti rasisme.

Perjuangan Malcom x memang tidak sia-sia. Setidaknya sejak saat itu peta politik Amerika berubah. Warga kulit hitam mendapatkan haknya dalam menentukan pilihan politik mereka. Bahkan Obama dianggap sebagai kemenangan warga kulit hitam Amerika sebagai presiden pertama sepanjang berdirinya adidaya tersebut.

Kini, kisah terulang kembali. Semakin hari perlakuan oknum pemerintah khususnya aparat kepolisian Amerika semakin sering memunculkan perbedaan ras tersebut. Pembunuhan terhadap warga kulit hitam terus dilakukan. Cara pembunuhan yang dilakukan juga terlihat sangat sadis dan tidak manusiawi. Puncaknya hari ini terjadi protes bahkan penjarahan toko-toko akibat kebencian terhadap warga kulit putih dan pemerintah Amerika Serikat.

Meskipun Presiden AS, Donald Trump mengatakan telah meminta maaf dan menemui keluarga George Flyod, namun protes semakin meluas seantero negara bagian Amerika. Warga Amerika turun bersama untuk menuntut keadilan bagi korban pembunuhan yang rasis. Bahkan tidak semua protester adalah warga kulit hitam. Mereka yang simpati terhadap kasus tidak manusiawi ini ikut memberikan dukungan dengan bergabung bersama demonstran.

Jika Trump tidak mampu meredakan prostes tersebut dalam beberapa hari ke depan, maka tuntutan kemungkinan akan terus meluas. Warga kulit hitam merasa terlalu lama diam dengan perilaku dan sikap orang-orang kulit putih dan oknum pejabat yang memandang rendah mereka. Di tengah pandemi yang melanda Amerika, dan belum tuntas bahkan terbesar di dunia, Amerika harus menambah beban baru dengan kasus pembunuhan George Flyod.

Bicara kasus Rasis memang bukan hanya terbatas pada kasus George Flyod. Sebab paham Rasis adalah paham yang dilahirkan oleh budaya Sekuler-Liberal Barat. Peradaban Barat membentuk kasta masyarakat dengan sekat warna kulit, agama, jabatan, kedudukan dan keturunan. Bagi peradaban Barat yang rusak, semua itu sangat penting dalam menentukan kebijakan.

Kebencian yang dibangun di atas rasis bukan hanya pada warna kulit, tetapi hingga agama. Lihat saja bagaimana Amerika memandang rendah kaum muslimin di Afganistan dan Iraq. Amerika memporak-porandakan ummat Islam. Bahkan saat kaum muslimin menjerit kesakitan seperti jeritan George Flyod “I can’t breathe”, jeritan itu tidak bermakna apa-apa dihadapan paham rasis yang sangat anarkis.

Begitu juga dengan ummat Islam di Palestina yang selalu ditekan dan dibantai oleh Zionis Israel. Mereka mencekik, memukul, bahkan menembak sesukanya. Berapa banyak korban yang terus berteriak “I can’t breathe, please!.” Namun kebencian Zionis pada agama Islam dan ummatnya membuat teriakan itu sebagai bahan lelucon dan bahan olok-olokan.

Tidak jauh beda dengan perlakuan militer India terhadap warga muslim Kashmir. Pukulan, tendangan, siksaan dan tembakan juga selama 70 tahun lebih dialami ummat Islam di Kashmir. Ketika para wanita diperkosa, anak-anak dicekik dan dipukul, dan mereka berteriak “I can’t breathe!, ”  tidak ada yang peduli.

Rasisme adalah produk liberalisme Barat mengatasnamakan kebebasan. Paham yang sangat tidak manusiawi seperti itu bagaimana mungkin mampu mengayomi perbedaan dengan benar di suatu negeri? Dan sudah terbukti kegagalannya. Budaya Barat yang memelihara rasis justru akan membunuh peradaban Barat sendiri cepat atau lambat. Budaya yang destruktif menghinggapi Amerika dan akan segera tumbang.

Begitulah Barat mengurus manusia, jelas berbeda jauh dengan Islam. Islam tidak mengajarkan kebencian terhadap perbedaan warna kulit, suku, jabatan, harta dan agama. Islam mengayomi perbedaan dan mengaturnya sehingga bisa berdampingan sesama warga negara. Hal itu telah terbukti selama kurang lebih 13 abad lamanya.

Islam mengajarkan kemanusiaan dan tidak memaksa seseorang masuk Islam. Sesama muslim, Islam mengajarkan bahwa dihadapan Allah, semua sama dan yang membedakannya adalah taqwa, bukan rasa superior warna kulit, suku maupun status sosial ekonomi. Terhadap mereka yang non-muslim juga tidak diajarkan agar Ummat Islam membenci dan berbuat semena-mena.

Tentu ummat Islam tidak ingin hidup terus-menerus di bawah bayang-bayang peradaban Barat yang rusak dan tidak manusiawi. Bahkan mereka yang non-muslimpun akan mencari sistem alternatif untuk menyelamatkan generasinya. Maka sudah saatnya, ajaran Islam dikampanyekan secara kaffah dan diperjuangkan agar bisa diterapkan.     Semata-mata untuk keselamatan hidup manusia,  dan penjagaan alam semesta. Tanpa Islam, semuanya akan rusak dan binasa. [ Wallahu a’alam bissawab]

Oleh: Nahdoh Fikriyyyah Islam/ Dosen Pangamat Politik

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: