Nafsiyah

HIDUP BUKAN HANYA TENTANG KEINGINANKU

Siapakah yang mampu menafsirkan masa depan? Saat hidup bukan sesuatu yang dapat digenggam dengan erat. Yang terjadi pada masa yang akan datang tidak mampu di indera oleh manusia. Manusia silih berganti hadir mengisi setiap scene film di kehidupan. Entah mereka akan tinggal dalam waktu sebentar ataupun lama. Mengukir kisah baik ataupun buruk hingga nyawa telah hilang dari raga. Dan mengukir sebuah akhir yang kelak hanya akan menjadi sebuah kenangan.

Fase perputaran kehidupan akan terus berlanjut dan memang lah seperti itu. Kita yang menjadi sebuah kenangan oranglain ataukah oranglain yang menjadi kenangan kita. Baik ataukah buruk kenangan itu? Berharap ketika raga ini telah membusuk dalam tanah. Orang hanya mengingatku dengan kenangan yang baik dan meleburkan kenangan buruk bersama waktu.

Setiap nyawa berada dalam genggaman Sang Pencipta hingga batas kontrak di dunia. Kepunyaan Allah setiap hembusan nafas manusia. Saat semua itu tidak pernah mutlak menjadi milik manusia. Lalu kemana manusia akan bergantung bila bukan kepada-Nya? Sehingga hidup bukan lagi bicara tentang apa yang aku inginkan melainkan apa yang diinginkan pemilik nafas dalam kehidupan dunia.

Detik hembusan nafas yang terhela akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Satu persatu langkah yang diambil pun akan dimitai pertanggungjawaban pula. Seiring waktu yang kini membawa diri hingga menuju kedewasaan. Semakin besar perhitungan sekaligus pemahaman yang tertanam. Saat menemukan sebuah pengetahuan bahwa hidup tidaklah tercipta tanpa sebuah tujuan. Dan mencoba mencari arti diri dihidupkan.

Lembaran-lembaran cahaya itu telah menanamkan pemahaman dalam mencari arti kefanaan dunia. Saat Alquran yang suci mengatakan bahwa Allah tidaklah menciptakan Jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Lalu ibadah itu seperti apa? Seperti Sholat, zakat, infaq atau sesuatu yang lebih dari itu?

Nyatanya, dalam denting waktu yang berlalu Allah menginginkan manusia senatiasa melakukan perintah dalam detik yang terus berputar. Jadi, Alah meminta cinta itu hadir untuk-Nya. Hingga manusia akan memberikan apapun untuk cinta kepada-Nya. Kesehatan, Kekayaan, tahta, hingga waktu luang hanya untuk-Nya. Dan semua itu hanya bisa dilakukan bila manusia mau untuk mencari tau.

Alquran, Assunah, Qiyas dan Ijma’ menjadi tolak ukur perbuatan yang kini harus tertata sesuai apa yang dimaui Allah. Ketika Allah berkata, “tutuplah auratmu” maka menutup adalah sesuatu yang harus dilakukan tanpa bantahan ataupun uluran waktu. Ini adalah resiko ketika manusia memilih meyakini dan mencintai-Nya. Karena cinta kepada-Nya berbanding lurus dengan pengorbanan yang dilakukan. Menaati apapun yang diperintahkan Allah.

“Tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak pula perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36) [Wallahu A’lam]

Oleh : Lismawati (Mahasiswi dan Praktisi Pendidikan)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: