Opini

HENTIKAN GERAK KOMUNISME, NOW OR NEVER?

Sebagaimana yang disampaikan oleh mantan ketua umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam unggahan berita di media elektronik, “Din Syamsuddin menyatakan sampai saat ini komunisme masih diberi ruang gerak di Indonesia” (CCNIndonesia)https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200601131112-32-508686/din-sebut-komunisme-masih-diberi-ruang-gerak-di-indonesia

Penting untuk menjadi pemahaman bersama bahwa ideologi tidak akan pernah mati, termasuk komunisme. Persoalan ideologi adalah persoalanĀ  laten yang menanti momentum untuk memimpin kembali, sebagaimana karakter ideologi memimpin bukan dipimpin. Benar PKI pengemban ideologi komunisme di Indonesia sudah dibubarkan, tapi pembubaran itu tidak berarti menghentikan geraknya untuk bangkit kembali. Terbukti dengan tanda-tanda kemunculannya yang semakin terang akhir-akhir ini.

Apalagi dengan alam demokrasi bebasis ideologi kapitalis yang menjunjung tinggi kebebasan menjadi peluang menyuburkan paham laten semisal komunisme. Dalih kebebasan bisa saja para pengusung komunisme terus bergerak memperbanyak dukungan dan menguatkan diri, menyusun strategi untuk bangkit.

Diperparah dengan asas manfaat sebagai pertimbangan khas ideologi kapitalisme, yang dipraktekkan di negeri ini menjadikan persoalan geliat komunis sesuatu yang tidak mendapat perhatian secara tepat, cenderung menyepelekan atau bahkan dipertahankan jika ada keuntungan disana, keuntungan berupa dukungan pada rezim misalnya. Meskipun jelas secara aturan dalam UU disebutkan bahwa paham komunisme adalah paham terlarang.

Dengan demikian mungkinkah kompromi mutualisme sedang terjadi diantara rezim dengan pengusung komunisme? Para pengusung komunisme memperoleh keuntungan begitu juga dengan rezim. Ini sah terjadi karena tidak ada yang dirugikan menurut pandangan sistem bobrok kapitalisme buatan manusia yang diterapkan saat ini.

Padahal jelas dalam jejak sejarah peristiwa berdarah, usaha pemberontakan yang dilakukan pengusung komunisme di negeri ini. Diwaktu yang sama justru rezim bertindak berlebihan pada penyeru Islam kaffah yang berusaha memberi solusi pada negeri. Seolah rezim ini menafikan bahwa para pejuang kemerdekaan negeri ini dulu kebanyakan adalah ulama dan para santri yang termotivasi seruan jihad ajaran Islam. Apakah benar kecurigaan bahwa pemerintah nampaknya sedang dibajak komunisme secara diam-diam?

Dengan fenomena yang ada dihadapan kita semua, lalu mana yang akan kita pilih?

Kapitalisme yang dibangun atas asas kompromi, yang mengambil keputusan dalam segala hal dengan kompromi termasuk persoalan hidup-mati, yang mulai terseok-seok menuju kehancurannya.

Atau Komunisme keji yang menghalalkan segala cara bahkan menghilangkan nyawa dalam mencapai tujuan sebab menafikkan keberadaan tuhan. Mereka mulai berusaha mengambil peran untuk memimpin kembali. Tidak keduanya, tidak kapitalisme, juga tidak komunisme.

Lalu sebenarnya bagaimana menyikapi persoalan ini secara tepat? Harusnya bersikap waspada dan tegas menindak tindakan yang mengarah pada wacana kebangkitan komunisme ini. Sehingga sikap yang diambil selaras dengan aturan hukum pelarangan paham komunisme di negeri ini.

Sebagaimana Islam yang tegas dan komitmen terhadap penerapan hukum-hukum  dalam menjaga kedaulatan negara. Ketahuilah ada pilihan lain yaitu sistem Islam yang lebih layak dari dua sistem buatan manusia tersebut. Sistem yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal, dan menentramkan hati.

Sistem yang tidak membutuhkan sekutu sehingga tidak mungkin akan berkompromi khususnya dalam hal kebatilan. Sistem dari Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa, yang mendorong manusia memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dengan tepat termasuk kebutuhan bertuhan bukan malah menafikkannya.

Bagaimana sistem Islam bisa menjalankan fungsi-fungsinya termasuk menjaga kedaulatan negara? Yaitu dengan menerapkan Islam secara kaffah tidak hanya pada tingkatan individu dan kelompok masyarakat saja namun dalam tingkatan pemerintahan. [Wallahu a’lam bishawab]

Ana Puspitasari (Institut Kajian Politik dan Perempuan)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: