Muhasabah

HAPPINES

Detik waktu berkelana tanpa dapat dihentikan ataupun dipercepat. Mengembara melewati kehidupan fana yang akan menemui titik akhir. Mendapatkan berbagai peristiwa yang senatiasa berganti-ganti. Yang pasti suka dan duka menyelimuti. Manusia selalu memiliki angan untuk hidup selamanya dalam kebahagiaan. Berharap bahwa kesedihan hanya akan mampir sebentar dalam kehidupan mereka. Seolah membayangkan duka hanya sebuah lintasan waktu yang sedetik kemudian akan hilang.

Happines, manusia menginginkan kebahagiaan selalu menjadi teman akrab yang tidak akan pernah jauh. Menjadi porsi paling banyak dalam kehidupan. Menyingkirkan kesedihan menjadi remah-remah yang tak berarti. Sayangnya, dunia saat ini tidaklah sebaik itu.

Mendapatkan kebahagiaan dalam hidup adalah sesuatu yang sulit. Apalagi saat umat Islam memilih selain dari aturan Allah. Jangankan untuk merasakan kebahagiaan yang lama. Untuk mengecap kehidupan yang layak pun terasa sulit.

Untuk merasakan sebuah kata ‘cukup’ begitu sulit diraih. Bukan hanya karena penghidupan yang sempit. Namun, karena ketidakmauan umat Islam diatur oleh Allah Sang Mudabbir. Mereka memilih untuk hidup dalam aturan selain Islam.

Mengabaikan syariat yang Allah tulis dalam Al-Qur’an hanya sebagai bacaan semata. Beralih pada hukum buatan manusia. Meskipun tau bahwa manusia memiliki sisi kurang, lemah, dan terbatas. Wajar bila hari ini, untuk mendapatkan kebahagiaan amat sulit.

Bahagia itu sederhana!

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bila ditilik lebih dalam lagi, sesungguhnya sebuah kebahagiaan itu sederhana. Sama halnya bagaimana sebuah kebahagiaan juga relatif. Bergantung bagaimana cara pandang manusia tentang kebahagiaan itu sendiri. Bahagia karena materi ataupun selainnya.

Namun, ketika manusia meninggalkan aturan Allah dalam kehidupan yang terjadi akan lebih menyedihkan. Jangankan untuk selalu merasa bahagia. Merasa nyamanpun rasa-rasanya amatlah jauh dari jangkauan. Seperti memandang oase digurun pasir.

Kesedihan dan kebahagiaan memang sudah sunnatullah menghiasi kehidupan. Tidak ada kebahagiaan yang bertahan lama. Begitupun dengan kesedihannya. Asal yang menjadi dasar dalam kehidupan adalah ketakwaan maka kehidupan akan tenang.

Hanya saja, ada satu hal yang menjadikan kehidupan saat ini sangat jauh dari kebahagiaan. Yang kaya, miskin, sehat, sakit, tua, muda merasakan banyaknya kesedihan. Dikarenakan tidak diterapkannya aturan Allah dalam kehidupan. Maka jika ingin happines sepanjang kehidupan fana. Jadikanlah takwa dan taat pada aturan Allah itu sebagai pedoman untuk mencapai kebahagiaan hakiki. [Wallahu A’lam]

Oleh : Afra Salsabila Zahra-Mahasiswi dan Praktisi Pendidikan

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: