Motivasi,  Opini,  Tema Bebas,  WCR

GELEMBUNG-GELEMBUNG RINDU

Barisan-barisan orang pilihan diantara umat yang ada. Pilihan-pilihan yang pada akhirnya menghantarkan seseorang pada yang telah ia pilih. Pilihan menjadi pejuang, hanya menonton atau justru sebagai penghalang tersebarnya kebenaran.

Teruntuk seluruh kaum muslim, untukmu juga wahai pengemban dakwah penyebar Islam kaffah. Bebanmu tak ringan, tugasmu tak enteng. Ada gada besar yang akan selalu menekanmu, hidupmu tak akan terlihat menyenangkan bagi kebanyakan. Tetapi engkau memiliki modal keyakinan pada Rabb mu, engkau percaya tak akan pernah ada dusta atas bisyarah Rasulmu. Biarkan gelembung-gelembung rindu itu memenuhi dirimu agar engkau ringan terbang bebas menyusuri semesta menebar benih-benih perjuangan.

Wahai pengemban dakwah…
Engkau tak hanya memilih tetapi engkau juga orang pilihan. Pilihanmu juga yang akan menghantarkanmu menjadi seorang muslim yang tangguh, jadikan Islam sebagi standar kau berbuat. Tak mudah memang di tengah hegemoni kehidupan serba kapitalis. Engkau harus melawan arah, hingga gesekan akan terus melukaimu.

Wahai pengemban dakwah…
Lisan-lisan yang basah dengan dalil-dalil Alquran. Lisan yang rindu dengan tegaknya dalil-dalil itu mengatur bumi. Lisan yang senantiasa mengucap kebenaran meski berada dalam kubah kezaliman. Meski kebenaran selalu dipukul mundur oleh kebengisan. Pengusung bendera kebanaran walau saat tak ada tempat mulia bagi kebenaran.

Wahai pengemban dakwah…
Tidakkah kita belajar dari pendahulu, pejuang bukan kita saja, telah ada yang mendahului perjuangan ini dengan penuh kesabaran. Ujianya tak main-main, bahkan dengan tetesan darah. Setelah cahaya Islam memimpin dunia ini redup, mereka selalu berusaha selalu mengusung lentera di tengah gelapnya pemikiran umat. Mereka juga menyeru pada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran. Mereka juga mengkritik kezaliman.

Wahai pengemban dakwah…
Tak perlu takut dibenci, Rasul saja dengan kesempurnaan akhlak qurani yang menyatu denganya saja masih dibenci, apalagi kita yang tak berarti. Terus saja berjalan, meski riak itu memekakkan telinga. Walaupun hati lelah, tetapi tetaplah berjanji kepada Allah untuk sungguh-sungguh dalam beraktivitas untuk mewujudkan mahkota kewajiban bagi seluruh kaum muslim, yaitu tegak kembalinya Khilafah Islamiyah.

Tak ada yang dapat diucapkan, saat gelembung-gelembung rindu memenuhi sesak ruang hati. Muslim mana yang tak rindu dengan pengaturan utuh dari penciptanya. Setetes perjuangan menegakkanya adalah investasi kebaikan yang tak berujung. Sampai saatnya Allah panggil pejuang itu, sampai Allah sudahi perjuanganya. Nama-nama mereka dikenal langit meski dicaci bumi. Kenangan yang harum mewangi hingga satu per satu gelembung-gelembung rindu itu pecah karena rindu berjumpa Rasulnya telah tertunai.

Di tengah perjuangan ada untaian doa yang senantiasa dipanjatkan kepada Dzat yang Maha Tinggi Maha Kuasa hingga memperoleh pertolongan dari sisiNya, dengan pertolongan itu agar memuliakan kita dengan Islam. Sampai pada saatnya Daulah Khilafah Rasyidah itu berdiri. Bahagia selimuti seluruh kaum muslim bahagia karena pertolongan Allah. Semoga Allah tetap Istiqomahkan kita dalam agamaNya, senantiasa Allah jaga kita dalam meniti jalan penuh duri ini. [Wallahua’lam bis showab]

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: