Opini

GANGGUAN JIWA, BUAH BUSUK KAPITALISME SEKULER

Pilu rasanya mengikuti pemberitaan kriminal di berbagai media saat ini. Yang teranyar adalah peristiwa penusukan terhadap Ustadz Syekh Ali Jaber. Sang pelaku dikabarkan mengalami gangguan jiwa. Ada pula video viral yang beredar mengenai persidangan kasus Isabella Guzman, sang psikopat pelaku aksi penikaman sadis terhadap ibundanya sendiri. Dengan alasan mengalami gangguan kejiwaan pula, ia divonis hukuman lebih ringan dibanding pelaku normal. Dan banyak kejadian tragis serupa sebelumnya yang melibatkan pelaku dengan gangguan jiwa.

Fenomena pelaku kriminal dengan gangguan jiwa sempat merebak semenjak beberapa tahun ke belakang, tepatnya pada tahun 2018 dimana yang menjadi korban pun adalah tokoh-tokoh ulama. Wajar jika sebagian kalangan menilai bahwa dimunculkannya tokoh dengan gangguan jiwa adalah bagian dari skenario busuk dalang di balik layar. Motifnya tentu untuk mengalihkan perhatian publik dari isu besar yang ingin digolkan oleh pihak yang memiliki kepentingan, atau sengaja menunjukkan kebencian terhadap Islam dan ulama.

Di sisi lain, fakta orang dengan gangguan jiwa memang benar adanya. Tak perlu jauh memandang, bahkan di sekitar kita pun pasti kita akan dapati orang demikian dengan berbagai levelnya, mulai dari level ringan hingga level parah seperti kasus Isabella tadi.

=======

Menarik untuk dibahas mengapa jumlah orang dengan gangguan jiwa semakin hari semakin bertambah, apalagi semenjak pandemi Covid-19. Berdasarkan pengamatan langsung maupun melalui media, maka dapat dipetakan beberapa sebab yang menjadikan seseorang terganggu jiwanya, diantaranya:

/Pertama/ tekanan ekonomi. Hal ini menimpa para kepala keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Bagaimana tidak, harga diri sebagai laki-laki semakin terusik ketika biaya hidup semakin tinggi dan sulit untuk ditutupi. Gali lobang tutup sumur dengan berbagai cara termasuk cara haram (baca: riba) sudah menjadi biasa di tengah masyarakat. Wajarlah jika kewarasan para kepala keluarga menjadi terancam.

/Kedua/ dampak negatif penggunaan teknologi. Kehidupan serba modern dan melibatkan teknologi canggih membuat hampir semua orang saat ini menjadikan fasilitas Handphonebertipeandroid sebagai alat komunikasi. Semua akses informasi bisa diperoleh hanya dengan menyentuh satu layar. Dari sekian banyak kebaikan HP android, sayangnya masih lebih banyak pihak yang menyalahgunakannya dengan mengakses informasi unfaedah dalam bentuk tayangan film, game, pornoaksi maupun pornografi. Penyalahgunaan inilah yang mengakibatkan terjadinya kerusakan pada anggota tubuh terutama mata, jaringan syaraf dan otak. Tak heran ada pepatah mengatakan tontonan menjadi tuntunan. Berbagai penelitian pun telah membuktikan hal ini, bahwa seseorang yang menonton suatu adegan cenderung akan terdorong melakukan hal serupa dengan adegan yang ia tonton.

/Ketiga/ beredar luasnya produk-produk haram yang merusak akal seperti miras dan narkoba. Meski aturan telah diberlakukan, adanya mafia peredaran miras dan narkotika menjadikan kedua produk tersebut sulit untuk dihilangkan di negeri ini. Hal ini menunjukkan tidak tegasnya sanksi bagi para pengedar maupun pemakai. Padahal kedua produk ini memiliki daya rusak akal yang tinggi.

/Keempat/ sistem kehidupan yang diterapkan saat ini adalah sistem kapitalisme sekuler, dimana Pencipta tidak dilibatkan dalam kehidupan sehingga konsekwensinya kebahagiaan diukur sebatas materi belaka. Hal inilah sebenarnya yang menjadi penyebab utama maraknya fenomena orang dengan gangguan jiwa. Sistem kapitalisme sekuler tidak menjamin kehidupan rakyat, realitasnya malah menyengsarakan rakyat. Penguasa yang hadir bukanlah penguasa yang amanah, akan tetapi penguasa yang memihak pemilik modal atau kepentingan. Faktanya rakyat hanya dipalak pajak demi terbayarnya hutang, sedangkan penguasa bergandeng mesra dengan para investor asing pengeruk kekayaan alam. Sudahlah terhimpit dengan kehidupan, ketakwaan individu pun tak ada. Wajar jika gangguan jiwa melanda kaum muslimin.

=======

Sungguh, Sistem Kapitalisme sekuler dengan berbagai aturan turunannya yang tak sesuai fitrah merupakan rahim yang baik bagi lahirnya manusia dengan gangguan jiwa. Padahal Allah Telah Menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (TQS. At-Tiin: 4)

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (TQS. Al- Isra: 70)

Hanya sistem Islam dalam naungan Khilafah yang mampu memanusiakan manusia, dengan menerapkan aturan kehidupan dari Sang Pencipta Yang Maha Tahu seluk beluk tentang manusia ciptaan-Nya. Khilafah akan menjamin kehidupan warganya melalui konsep ekonomi Islam yang stabil tak rentan krisis, sehingga warga tak lagi terbebani pikirannya dengan terpenuhinya kebutuhan dasar. Khilafah pun akan memelihara akal manusia dengan menghilangkan perkara-perkara yang merusaknya seperti tontonan pornoaksi dan pornografi, miras, serta narkoba.

Yang tak kalah pentingnya, Khilafah akan menerapkan sanksi yang tegas dan berefek jera bagi para pelaku berbagai penyimpangan di atas. Sudah saatnya kita kembali pada aturan Islam, demi terlindunginya jiwa dan juga akal kita. Wallaahua’lam.

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” ( TQS. Ali Imran: 110)

Oleh:Lely Herawati (Praktisi Pendidikan dan Aktivis Muslimah Pecinta Islam)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: