Hikmah,  NulisPedia,  Problematika Umat

FATALNYA KETIDAK JUJURAN YANG MENJANGKITI

Mengambil ibroh dari sebuah kisah gadis penjual susu di masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Pada suatu malam, Umar bin Khattab usai berkeliling melihat kondisi rakyatnya, Dia menyandarkan tubuhnya pada dinding sebuah rumah sederhana. Tak sengaja Umar mendengar pembicaraan dua orang wanita.

“Campurkan air ke dalam susu yang akan kita jual itu, Nak,” kata seorang wanita.
“Tapi Ibu, Khalifah Umar melarang hal ini,” sanggah puterinya. Khalifah memang melarang mencampur susu dengan air karena dianggap sebagai kecurangan dalam berdagang.
“Ayo lakukan, Umar bin Khattab kan tidak mungkin melihat kita,” ibunya mendesak terus.
Sang anak menjawab dengan bijak. “Iya Ibu, Khalifah tidak melihat kita. Tetapi Allah SWT pasti melihat kita,” tegasnya.
——————————————————————————————-

Kesuksesan sosok Umar bin Khattab memimpin rakyatnya dengan menancapkan kejujuran yang diserukan oleh seorang pemimpin untuk senantiasa berbuat jujur tak lepas dari cerminan seorang pemimpin yang tegas, amanah, tawadlu’, serta sangat jujur. Dialah Amirul mukminin Umar bin Khattab.

Pemimpin yang menjadi komando terdepan akan sangat menentukan hasil dari suatu keadaan rakyat, jika pemimpinnya tegas dan jujur. Maka rakyatpun akan baik dan mengikutinya. Akan tetapi jika ketidak jujuran telah menjangkiti segala lini publik dan menjadi hal yang lumrah ditengah-tengah penguasa bahkan rakyat akan senantiasa dengan mudah melakukan hal demikian pula. Karena tidak adanya aturan yang mengikat dari seorang penguasa.

Hingga tak bisa dipungkiri keadaan yang nun jauh disana dengan masih berkutat problematika pandemi yang semakin mencuat, tak sedikit rakyat bahkan jajaran pemimpin negara yang tidak jujur dan terlalu banyak hal yang  tidak transparan. Keadaan ini tidak bisa dipungkiri jika di saat pandemi tidak sedikit rakyat yang berlaku tidak jujur atas terjangkitnya virus pandemi pada diri yang terdampak. Tak heran jika korban semakin banyak dan meluap secara drastis.

Ketidak jujuran telah menjangkiti berbagai lini di negeri ini. Kejujuran diajarkan disekolah-sekolah, tetapi apa boleh buat jika itu tak lain hanya sebatas pengetahuan yg tak diterapkan? Bagaimana dengan nilai-nilai sekolah dan kunci jawaban yang diperjualbelikan dengan mengorbankan ketidak jujuran demi ‘manfaat’ yang didapat? Apakah ketidak jujuran menjadi praktek umum untuk mengejar target nilai?

Ataukah kini kejujuran di sistem kapitalis memang dibentuk layaknya hal yang biasa? Sehingga rakyat jauh dari kata menyesal dan seolah-olah itu menjadi hal lumrah?

Sungguh, ketidak jujuran akan berimbas fatal . Menelan banyak korban dan bisa menghancurkan. Lantas sampai kapan ketidak jujuran menjadi praktek yang mematikan? Sampaikapan ketidak jujuran akan diteruskan? Maka kebijakan  penguasa menegakkan hukum dan mencerminkan kejujuran sangatlah di perlukan.

Oleh : Arifah Azkia N.H (Aktivis Mahasiswi, Surabaya)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: