Nafsiyah

DUNIA, WAKTU DAN MAUT

Dalam hidup kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang baru. Ataupun berpisah dengan orang-orang yang menemani kehidupan kita. Mengukir kenangan dan tertawa bersama hingga saling menyakiti. Kemudian berbaikan. Bukankah itu adalah fase kehidupan?

Seiring waktu yang berkurang, aku menyadari bahwa waktu yang telah pergi takkan pernah bisa dikembalikan atau diduplikatkan dimasa depan. Aku menyadari bahwa waktu yang berlalu akan menghapuskan rasa sakit, kecewa ataupun bahagia menjadi sebuah cerita yang bernama kenangan.

Ada tawa dan airmata menyertai waktu berlalu. Ada kemarin yang tidak akan bisa diulang. Ada hari ini yang dipergunakan sebaik-baiknya dan ada hari esok yang ingin kita raih dengan kebaikan.

Lalu bagaimana bila waktu telah habis? Sesungguhnya hanyalah mati penghancur kenikmatan. Pemisah yang hakiki dari germerlap dunia yang fana. Menuju keabadian yang tidak berujung. Bagaimana rasanya menjadi mayat? Tanpa siapapun menemani. Tanpa satupun yang menolong diri dari peradilan dihadapan Sang Ilahi.

Saat manusia sibuk untuk mempercantik dirinya dengan pakaian dan perhiasan mahal. Serta merta saat itu hanya kain kaffanlah yang melekat ditubuh yang telah dingin.

Banyak waktu yang menyadarkanku arti kehidupan yang fana ini. Menyungkurkanku pada ketidakberdayaan yang menggerogoti. Ingin lari namun kaki telah menjadi kaku. Ingin berteriak namun bibir ini telah biru.

Apa yang engkau kejar wahai diri? Dunia yang begitu melenakan ini. Atau akhirat yang kau tinggalkan hanya sebatas pada pengetahuan. Ingatlah bahwa waktu akan menunjukkan kekuasaannya. Saat masa depan hanya sebuah angan akan sebuah keinginan.

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185)

Setiap manusia memiliki ajal, kematian tidak bisa dihindari dan kita tidak ada yang bisa lari darinya. Namun sayang, sedikit manusia yang mau bersiap menghadapinya. Seperti dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya),

“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari  daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu kan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah : 8)

Dan ingatlah bahwa kefanaan dunia hanya memberikan 2 pilihan. Menjadi ia yang taat atau ia yang pembangkang. Kebanyakan manusia begitu tertipu  dengan dunia. Seolah ia akan hidup selamanya. Ia lupa bahwa mati tidak akan menunggu usia senja. Bahwa waktu yang berlalu tidak akan pernah dapat dikembalikan. Dan semua akan dimintai pertanggungjawaban atas waktu yang ia pergunakan. Rasulullah bersabda,

“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR Tirmidzi)
[Wallahu a’lam bissawab]

Oleh : Afra Salsabila Zahra – Mahasiswi dan Aktivis Remaja

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: