Opini

DIHENTIKAN, JANGAN HANYA DISUMBANG!

Dilansir dari detik.com (23/10/20) Donor internasional menjanjikan sumbangan untuk menjembatani kesenjangan pendanaan bagi pengungsi Rohingya, nyaris US$ 600 juta (Rp 8,8 triliun). Total sumbangan itu sebagian besar berasal dari Amerika Serikat (AS), Uni Eropa dan Inggris. Komisioner Tinggi PBB, Flippo Grandi mengatatakan “Komunitas internasional telah menunjukkan komitmen kuat terhadap respons kemanusiaan dengan mengumumkan pendanaan hari ini total sebesar US$ 597 juta.”

Peristiwa ini bak sebuah rumah yang dirampok oleh perampok dan polisi hanya memberikan bantuan uang. Keesokan harinya rumah tersebut dirampok kembali, bahkan bantuan yang berasal dari polisi juga ikut dirampok. Tentu kita heran mengapa polisi tidak menangkap perampok tersebut padahal ia memiliki kuasa atasnya. Jikalau polisi memenjarakan atau menjatuhkan sanksi terhadap perampok, maka rumah tersebut akan aman dari perampok.

Persis seperti kasus Rohingya. Muslim Rohingya ibarat rumah, Myanmar ibaratkan perampok, dan polisi ibarat organisasi perdamaian dunia. Muslim Rohingya terus-terusan disiksa, dibantai, dianiaya bahkan dibunuh oleh Myanmar. Namun, pihak yang seharusnya berkuasa untuk menghentikan peristiwa bengis tersebut hanya memberikan sumbangan.

Sangat diacungkan jempol, pemberian sumbangan ini yang bahkam mencapai US$ 597 juta. Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah, mengapa pihak perdamaian dunia tak melakukan peringatan, perlawanan bahkan pengiriman tentara dalam upaya untuk menghentikan kasus kemanusiaan tersebut? Padahal mereka memiliki kekuasaan aras hal tersebut.

Semua diam, membisu, hening, pasif, statis, seolah tak ada daya upaya untuk menghentikan sebuah peristiwa memilukan, bernama kemanusiaan. Apa sebenarnya kesalahan mereka? apakah karena mereka korupsi? apakah mereka melakukan pembunuhan massal? apakah mereka mencuri? atau karena mereka adalah Muslim?

Dunia tau jawabannya. Namun alih-alih mengirimkan tentara atau menyelamatkan mereka, menghentikan peristiwa tersebut, seolah tak ada yang berhak, seolah tak ada yang mau, seolah tak ada yang mampu. Padahal, ada sebuah organisasi dunia yang dapat mengendalikan itu semua. Kenyataannya, bagaimana? Ternyata hanya label yang indah dengan ekspektasi yang jauh dari realita.

Jika menelisik lebih dalam, mengurai peristiwa, menjajak fakta. Peristiwa yang serupa seperti ini, semakin hari semakin bertambah. Bahkan peristiwa saudara-saudari di Palestina dan Suriah yang telah lama terjadi, hingga detik ini belum juga tuntas.

Apa sebenarnya solusi yang komprehensif untuk menuntaskan segala peristiwa yang kian merebak? Jikalau ada yang berpendapat, solusinya adalah menyumbangkan sandang pangan dan papan lebih banyak agar mereka dapat hidup. Tentu kurang tepat. Mengapa? Bukankah dari dulu hingga saat ini kaum muslim di Negeri lain terus memberikan hal tersebut kepada mereka? Namun, apakah bantuan tersebut dapat membuat peristiwa bengis tersebut terhenti?

/Islam Memelihara Nyawa/

Salah satu tujuan dari penerapan syariat Islam adalah memelihara nyawa manusia. Nyawa seorang muslim memiliki kemuliaan yang sangat tinggi di hadapan Allah SWT. Bahkan dalam Qs. Al-Maidah ayat 32 Allah berfirman bahwa menghilangkan satu nyawa manusia tanpa alasan syar’i seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.

Rasullullah SAW juga bersabda “Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim” (HR. an-Nasai, at-Tirmidzi dan al-Baihaqi).

Maka, perlu solusi yang tepat dan solutif untuk menghentikan peristiwa kejam ini. Bahkan solusi yang tidak hanya menghentikan pembantaian Muslim Rohingya namun juga seluruh elemen manusia yang sedang dilanda peristiwa anti kemanusiaan. Baik muslim maupun non muslim.

Islam adalah agama yang sempurna nan paripurna. Tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan pencipta dan dirinya sendiri, Islam juga mengatur hubungan antara dirinya dengan manusia lain. Islam memiliki aturan dalam setiap sendi kehidupan ummat manusia. Karena Islam adalah agama sekaligus ideologi. Islam mengatur kehidupan manusia bahkan sampai kepada  pekara yang sangat kecil.

Jadi, apakah mungkin solusi dari peristiwa ini tidak ada dalam islam? Tentu ada. Namun Mustahil solusi tersebut ditempuh tanpa kehadiran sebuah Negara yang menerapkan hukum-hukum Islam secara kaffah. Karena antara satu sistem Islam saling berkaitan dengan sistem Islam lain. Antara aturan dalam hubungan luar negeri dengan aturan hubungan kerja sama dengan pihak pembantai dengan hubungan ekonomi, politik, pendidikan pergaulan dan lain lain

Maka langkah yang tepat untuk menghentikan seluruh peristiwa anti kemanusiaan ini adalah dengan menegakkan hukum Allah di atas muka bumi dalam bingkai Khilafah. Karena satu-satunya negara yang mampu mengentaskan peristiwa bengis ini hanya negara khilafah dengan penerapan sistem-sistem Islam secara sempurna.

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud)

“Tidak ada seorang hamba pun yang mendapat amanah dari Allah untuk memimpin rakyat, lantas ia meninggal pada hari meninggalnya dimana keadaan mengkhianati rakyatnya kecuali Allah telah mengharamkan atasnya surga (HR. Al-Bukhari no. 7150 dan Muslim no. 142)

Oleh : Radayu Irawan, S.Pt.

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: