NulisPedia,  Parenting Islam

DIBALIK ANAK-ANAK GOOD LOOKING ADA ORANG TUA LUAR BIASA

Anak-anak yang belum menginjak usia baligh memang tidak dibebankan taklif (kewajiban) dalam melaksanakan perintah agama, dikarenakan akal mereka masih belum sempurna dan belum pahamnya mereka akan kewajiban melaksanakan ibadah keagamaan.

Rasulullah SAW bersabda: “Diangkat pena (taklif hukum) dari tiga golongan: orang tidur hingga bangun, anak-anak hingga baligh dan orang gila hingga sadar “ (HR al-Baihaqi)

Sebagai orang tua kita diperintahkan mengajarkan anak-anak akan pentingnya syariah Islam, agar ketika baligh nanti mereka paham dan Istiqomah dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang Muslim.

Selain kita ajarkan mereka rutinitas ibadah sejak dini seperti tentang bagaimana berperilaku yang sopan kepada orangtua, bagaimana membaca Alquran dengan baik, mengajarkan bacaan sholat beserta gerakannya, mengajarkan mereka untuk tidak memakan hal yang diharamkan oleh Allah, juga menjauhi semua perbuatan yang dilarang dalam Islam.

Salah satunya adalah pola pembiasaan untuk senantiasa berbuat kebaikan dan taat kepada aturan Allah yaitu kewajiban menutup aurat. 

Mungkin bagi sebagian orang menganggap hal ini adalah sesuatu yang berlebihan, akan tetapi berbuat baik itu perlu pembiasaan begitupun berbuat buruk juga perlu pembiasaan. Tentu kita tidak mau anak-anak kita tumbuh menjadi “Bad Looking” yang senantiasa menjadi trouble maker baik di dalam keluarga ataupun di masyarakat yang ujung-ujungnya menjadi sampah peradaban. Na’udzubillah

Pembentukan kepribadian anak yang benar haruslah dilakukan dengan pembinaan keimanan (akidah), pembinaan dan pembiasaan ibadah, pendidikan perilaku (akhlak), pembentukan jiwa, pembentukan intelektualitas serta pembinaan interaksi sosial kemasyarakatan

/Pertama/ Pembinaan Keimanan, bisa dilakukan dengan cara: mengajarkan keyakinan bahwa Allah senantiasa melihat dan menyertai manusia dimanapun ia berada. Menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah saw. Serta menjadikan Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya sebagai teladan dalam kebaikan. Rasa takut kepada Allah SWT akan menghindarkan anak dari segala perbuatan buruk. 

/Kedua/ Pembinaan Ibadah, merupakan penyempurnaan dari pembinaan akidah, dan menjadi cerminan keyakinan. Pembinaan ibadah dilakukan dengan mendorong pelaksanaan shalat wajib, ditambah dengan melakukan shalat sunnah. Selain itu, orang tua bisa juga senantiasa mengajak mereka menghadiri shalat berjamaah di masjid. Ibadah shalat akan mencegah anak dari perbuatan keji dan mungkar.  Firman Allah SWT dalam Alquran:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (TQS. al-‘Ankabut : 45)

Orang tua juga membiasakan anak-anak melaksanakan shaum sunnah karena shaum akan menguatkan daya kontrol anak terhadap segala keinginan. Mereka akan terbiasa sabar dan tabah serta memahami bagaimana menderitanya orang-orang yang tidak bisa membeli makanan.

/Ketiga/ Pendidikan Akhlak. Akhlak adalah perangai yang dibentuk. Karena itu anak memerlukan pendidikan akhlak agar aktivitas sosial mereka terhindar dari penyimpangan serta kesalahan. 

Anak-anak tumbuh sesuai dengan pembiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya. Perangai buruk seperti suka berbohong, tidak amanah, emosional, temperamental, serakah dan sebagainya adalah bentukan pendidik. Begitupun perangai yang baik semisal dermawan, bijak, sabar, jujur, penyayang, pemaaf dan sebagainya adalah bentukan pendidik. 

Dalam hal ini, orang tua adalah contoh pertama, karena mereka adalah pendidik pertama. Ajaklah anak untuk mendatangi majelis ta’lim, mendatangi ulama dan belajar dari mereka adab dan menjalankan nasihat mereka. Beberapa adab yang wajib diajarkan kepada anak adalah adab terhadap orangtua, adab terhadap orang yang berilmu, adab berinteraksi terhadap sesama Muslim, adab dengan tetangga, meminta izin dalam berbagai hal (izin memasuki rumah orang, izin penggunaan hak milik orang, dan sebagainya), adab dalam berbusana dan sebagainya.

/Keempat/ Pembentukan Jiwa, dilakukan dengan cara memberikan perhatian dan kasih sayang dalam bentuk langsung yang terasa secara fisik seperti ciuman, belaian dan pelukan. Bermain dan bercanda dengan mereka, menyatakan rasa sayang dengan lisan.

/Kelima/ Pembentukan Intelektual. Orang tua harus memotivasi anak agar semangat mencari dan mencintai ilmu. Menuntut ilmu adalah ibadah utama yang mendekatkan hamba kepada Rabb-nya. Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat baik untuk membangun keilmuaan dan pemikiran mereka. 

Orang tua harus membimbing anak memahami hukum-hukum Islam, mencarikan guru yang salih, memilihkan sekolah Islam yang terpercaya, mendidik anak terampil bahasa Arab dan bahasa asing yang diperlukan, mengarahkan anak sesuai kecenderungan ilmiahnya, menyediakan bahan bacaan di rumah, mengisahkan riwayat orang-orang salih pada generasi lalu serta mendorong anak untuk mencontoh penguasaan keilmuan mereka.

/Keenam/ Pembinaan Kemasyarakatan. Membina anak untuk melakukan interaksi sosial bersama masyarakat menumbuhkan sikap kepedulian dan tanggung jawab terhadap persoalan umat. Interaksi mereka di tengah masyarakat memerlukan pemahaman yang matang. Utamanya ketika mereka memasuki usia baligh. Laksana orang dewasa, mereka terikat dengan aturan interaksi sosial, yakni hubungan laki-laki dengan perempuan serta hukum-hukum kemasyarakatan seperti ekonomi, hubungan ketetanggaan, kekerabatan, pertemanan, dan lain sebagainya. 

Anak harus memahami jenis pakaian apa yang harus dikenakan untuk keluar rumah, paham batas-batas hubungan antara lawan jenis, paham siapa yang harus dijadikan teman, dan bagaimana bersikap terhadap tetangga. 

Kepada mereka juga harus dijelaskan tentang peran apa saja yang ditetapkan Islam saat berada di tengah masyarakat. Pemahaman ini akan membentuk sikap kepedulian (tidak apatis) dan mendorong mereka untuk mengambil peran positif dalam masyarakat.

Ini bisa dilakukan dengan cara mengajak anak turut serta dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Misalnya, Anak dilibatkan dalam agenda bagi-bagi sembako di masa pandemi, ikut mengunjungi tetangga yang sakit, turut memberikan sedekah kepada fakir miskin, ikut dalam organisasi sosial kemasyarakatan dan sebagainya.

Begitu besarnya peran orang tua dalam upaya membentuk generasi berkepribadian Islam ini. Dari generasi berkepribadian Islam inilah terwujud nyata menjadi generasi “Good Looking” sebagai konsekuensi keimanan yang telah tertancap kuat didalam jiwa-jiwa anak kaum Muslimin. Tanpa peran orang tua yang luar biasa akan sulit membentuk generasi “Good Looking”

Nabila Zidane (Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: