Opini

CHINA, HEGEMONI KEKUATAN EKONOMI YANG MEMATIKAN

China, negara Kapitalisme Timur yang mulai membangun kekuatan baru dengan Ekonominya yang menyebar ke negara-negara di Dunia termasuk Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan bahwa China adalah kekuatan baru yang memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian dunia yang tidak bisa diabaikan oleh Indonesia. Ekspansi besar-besaran China melalui Investasi dengan Tenaga Kerja Asingnya tidak boleh dimusuhi oleh Generasi Millenial dan rakyat Indonesia (Kompas.com, 06/06/2020)

Investasi China yang membawa Tenaga Kerja Asing tentu menjadi permasalahan rumit diantara banyaknya permasalahan negeri yang lain. Apalagi tenaga kerja kasarpun dari Negara Tirai Bambu tersebut. Sehingga, alih-alih membuka lowongan pekerjaan bagi generasi muda atau pengangguran. Investasi ini justru memperdalam jurang pengangguran  di Indonesia karena pekerjaan kasarpun diambil alih oleh pekerja China.

Kekuatan Baru ini berusaha menancapkan hegemoni mereka kepada negeri-negeri jajahannya lewat investasi. Mulai dari investasi Infrastruktur, transportasi, industri, pertambangan dan sektor-sektor publik yang penting bagi negara. Salah satunya infrastruktur hilir yang tidak banyak dilakukan oleh negara lain.

Keagresifan China dalam memperdaya negara lain di dalam  kendalinya semakin mengkhawatirkan dan menjadi suatu ancaman yang berbahaya bagi ekonomi negara Indonesia dan kedaulatannya. China menjadi salah satu negara penyumbang investasi terbesar di Indonesia. Dengan nilai investasi sebesar 65, 8 Triliun di sepanjang 2019 serta pendanaan terhadap proyek yang lain. (kompas.com, 29/01/2020)

Sayangnya, hal ini hanya dianggap angin lalu oleh pemerintah bahkan menuding orang-orang yang memusuhi China adalah orang yang berpikiran sempit. Padahal bahaya China bukan hanya pada ekonomi dan tenaga kerja yang mereka bawa. Tapi juga bahaya ideologi dan politiknya.

Kestabilan politik juga diperlukan oleh negara penjajah dengan cara membungkam kritik yang dilakukan oleh masyarakat, serta slogan radikalisme yang digulirkan penguasa untuk memuluskan jalan investasi. Inilah buah dari sistem Kapitalisme yang diterapkan sebagai pengikat antar sesama manusia.

Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam yang berlimpah ruah tidak dapat dipisahkan dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Dimana Umat Islam memiliki kewajiban untuk menerapkan aturan Islam sebagai pengatur kehidupan bukan aturan kapitalisme yang jelas buatan manusia.

Kapitalisme dibentuk berdasarkan pemisahan antara agama dengan kehidupan. Bahwa Allah yang menciptakan manusia namun tidak berhak mengatur kehidupan. Inilah yang dianut oleh negara Indonesia dengan mayoritas muslimnya. Hingga kebijakan apapun akan diambil meski menentang aturan Pencipta.

Menjadikan kedaulatan ada di tangan manusia, berbagai malapetaka kehidupan manusiapun terjadi. Manusia yang diciptakan dengan hawa nafsu, kekurangan, kelemahan dan keterbatasannya justru membuat banyak bencana bagi manusia.

Islam jelas bertolak belakang dalam mengatur kehidupan manusia. Apalagi dalam investasi, Abdurrahman al-Maliki dalam Politik Ekonomi Islam mengemukakan, sesungguhnya pendanaan proyek-proyek dengan mengundang investasi asing adalah cara yang paling berbahaya terhadap eksistensi negeri-negeri Islam. Investasi asing bisa membuat umat menderita akibat bencana yang ditimbulkannya, juga merupakan jalan untuk menjajah suatu negara.

Tidak ada jalan kembali kecuali hanya Islam. Sudah seharusnya kaum muslimin hanya menjadikan Islam sebagai jalan satu-satunya hukum yang mengatur masyarakat bukan yang lain. Dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan bermasyarakat dalam bingkai Khilafah.

 Ingatlah Allah berfirman:
“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka   mereka itulah orang-orang yang kafir.” (TQS. Al-Maidah: 44)

[Wallahua’lam bis showab]

Oleh : Afra Salsabila Zahra – Aktivis Remaja

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: