Opini

BIADAB, MARAK AYAH KANDUNG MENJADI PREDATOR ANAK

Kejahatan seksual terhadap anak bukan kasus baru, bahkan persoalan ini justru semakin hari semakin mengkhawatirkan.  Hari ini keamanan anak benar-benar berada pada kondisi yang sangat terancam. Sebab keluarga apalagi orang tua terlebih lagi seorang ayah yang diharapkan memberikan proteksi terhadap anak, sekarang justru berubah menjadi monster yang sangat mengerikan. Sungguh ini bukanlah isapan jempol semata, sebab beberapa waktu terakhir ini terkuak beberapa tindakan keji dan biadab yang dilakukan oleh beberapa ayah kandung terhadap anak perempuannya.

Belum hilang rasa geram kita terhadap seorang ayah di Bekasi yang tega melampiaskan hasrat seksualnya terhadap putri kandungnya yang berusia 14 tahun dalam kurun waktu enam bulan (detiknews.com 27/9/2021).  Kini kita harus menahan emosi kembali dengan kabar serupa yang terjadi di Subulussalam Aceh. Kepolisian Resort Subulussalam menangkap seorang pria Kamis (9/9/2021)  yang berinisial SN (36) di Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam, setelah diduga melakukan rudapaksa terhadap anak kandungnya yang masih berusia 14 tahun. (harianrakyataceh.com, Subulussalam)

Tidak selesai sampai disitu, kejadian lebih menyeramkan terjadi di Yogyakarta. Dimana seorang ayah kandung telah menjadi predator dua anak kandungnya bahkan untuk waktu yang relatif sangat lama yaitu delapan tahun. Tindakan tidak terpuji ini dilakukan seorang ayah berinisial SND, 41, kepada kedua anaknya berinisial, YEP, 18 dan YDP, 16. Ia mengatakan “Saya enggak pernah bahagia sama istri saya. Tahun 2013 istri selingkuh. Saya tidak yakin itu bukan anak saya dua-duanya,” jelasnya saat gelar perkara di halaman Lobi Mapolres Sleman, Selasa (21/9). (Radar Jogya)

Dan kasus terbaru yang tidak kalah mengagetkan publik adalah kasus yang dilaporkan tahun 2019 yang kasusnya dihentikan polisi. Kasus dugaan pencabulan dan pemerkosaan anak oleh seorang ASN berinisial SA (43) di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, terhadap tiga anaknya sendiri yang dilaporkan ibunya, RS, pada 2019 lalu, kembali dipertanyakan publik setelah viral di media sosial karena kasusnya dihentikan polisi. Bersamaan dengan kembali mencuatnya kasus ini ditemukan fakta baru ada pelaku lain yang diduga ikut terlibat terkait pemerkosaan terhadap 3 anak tersebut. 

“Sejak awal kasus ini dihentikan, pada Desember 2019, kami sebagai tim penasehat hukum sudah mempertanyakan saat itu kasus dihentikan,” kata tim penasehat hukum korban, Rezky Pratiwi seperti dikutip dari Antara, Jumat (8/10/2021). (Suara.com)

Sebenarnya kasus perkosaan dan kejahatan seksual yang dialami anak bukanlah persoalan baru. Begitu juga perbuatan biadab ayah kandung memperkosa anaknya bukan pula satu atau dua kasus. Hal ini bisa kita buktikan dari beberapa contoh kasus diatas yang masih sebagian kecil dari yang sudah terungkap ke publik. Sebab yang faktanya tidak terendus pasti lebih banyak lagi dengan berbagai macam alasan.

Persoalan ini jelas sangat meresahkan sekaligus mengkhawatirkan. Anak yang seharusnya dijaga justru dirusak masa depannya bahkan oleh ayah kandungnya sendiri. Kejadian seperti ini terus berulang tentu bukan tanpa sebab. Apalagi jika ditelisik dari kasus yang ada, ayah kandung melakukan kejahatan seksual terhadap anaknya dipicu berbagai macam alasan. Namun apapun itu, alasan-alasan tersebut tak bisa jadi pembenaran untuk mereka berbuat demikian.

Kehidupan yang menjunjung tinggi kebebasan memang menjadi penyebab utama kasus ini terus beranak pinak. Keadaan seperti ini telah berhasil membentuk keluarga yang sangat jauh dari nilai agama. Bahkan tidak sedikit orangtua nihil ilmu dalam mendidik anaknya. Begitupun anak, menjadi pemandangan biasa mereka tumbuh kering dengan pemahaman agama. Dari sini jelas terlihat bangunan pondasi keluarga yang rapuh dan rentan mengalami hal-hal yang berseberangan dengan prinsip agama.

Nafsu bejat seorang ayah kandung tidak bisa dikontrol disebabkan oleh lemahnya iman, tentu sebelumnya ada stimulasi yang mendorong mereka untuk melancarkan tindakan tak terpuji tersebut. Misalnya setelah terlebih dahulu menenggak minuman keras atau kecanduan narkotika yang menyebabkan hilang kewarasan akalnya. Kemudian mengambil pembenaran tidak mendapat kepuasan dari istri, maka memangsa anak dianggap sebagai jalan keluar. Belum lagi diperparah dengan ayah yang sering menonton video porno sehingga hasrat seksualnya tak terkendali. Semua pemicu yang disebutkan tadi sangat bebas dilakukan oleh siapapun di negeri yang tegak atas dasar sekulerisme sebagaimana negara kita sekarang.

Adapun penyelesaian yang diberikan negara untuk menghentikan kejahatan seksual sama sekali tak berpengaruh dalam mengurangi jumlah kasusnya, yang ada malah bertambah. Mulai dengan adanya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dibentuknya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), bahkan sampai dibuat PP Perlindungan Khusus Anak.  Presiden Joko Widodo pun telah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) tentang hukuman kebiri, PP No 70 Tahun 2020 yang ditetapkan Jokowi  per 7/12/2020. (viva.co, 3/1/2021). Kebiri dianggap sanksi tertinggi dan menjadi pemberatan sanksi yang efektif untuk menghentikan predator seksual terhadap anak.

Sangat disayangkan, semua upaya pemerintah dalam menghentikan kasus kejahatan seksual terhadap anak bisa dikatakan gagal. Ini tentu berbeda dengan Islam yang memiliki paradigma yang jelas dan tegas dalam memutus rantai kejahatan yang sangat memberikan trauma mendalam bagi anak. Di dalam Islam anak adalah amanah yang harus dijaga dan dididik dengan nilai-nilai agama dengan benar. Setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang dan pelindungan untuk memastikan tumbuh kembangnya berjalan dengan baik.

/Sistem Islam dalam menjaga anak dari predator/

Pelindung utama pastinya adalah keluarga, termasuk ayahnya. Islam tidak hanya membebani seorang ayah sebagai pencari nafkah saja, tetapi dia juga menjadi figur yang menjamin keamanan setiap anggota keluarga dari berbagai ancaman dan kejahatan. Kemudian Islam juga memastikan  keluarga harus tumbuh dengan dasar akidah Islam yang kokoh. Bukan malah sebaliknya sebagaimana yang marak terjai saat ini, keluarga yang jauh dari nilai-nilai Islam dan diperparah dengan kejadian ayah kandung tega merenggut kesucian anaknya.

Selain keluarga dalam pandangan Islam masyarakat juga berperan penting dalam memberikan perlindungan terhadap keselamatan anak. Masyarakat harus selalu melakukan kontrol saat melihat anak mendapat perlakuan yang tidak pantas. Masyarakat juga secara keseluruhan harus selalu memperhatikan bagaimana penguasa bertindak dalam menyelesaikan setiap persoalan apapun termasuk pemberian sanksi jika ada kejahatan seksual terhadap anak. Masyarakat harus melakakukan evaluasi terhadap penguasa jika mendapati kekeliruan dalam mengambil kebijakan.

Dan terakhir yang paling berperan penting sebagai pelindung untuk anak adalah negara. Didalam Islam negara bertanggungjawab atas seluruh persoalan yang dialami setiap warga negaranya. Misalnya saja dalam kasus kekerasan yang dipicu oleh berbagai macam alasan, ini akan dipastikan negara tidak akan terjadi. Semua yang berkenaan dengan akses narkoba dan minuman keras akan ditutup rapat, sebab terbukti dua jenis barang haram ini bisa menghilangkan kewarasan akal yang berujung pada kekerasan seksual terhadap anak. Begitu pula tontonan yang merangsang hasrat seksual, baik tayangan-tayangan di televisi apalagi situs-situs pornografi akan diberantas sampai tuntas.

Seandainya dengan semua tindakan pencegahan tadi masih terjadi kasus kejahatan seksual terhadap anak, maka negara juga dipastikan akan memberikan hukuman yang sangat berat dan memberikan efek jera. Tidak tanggung-tanggung, pelaku akan dikenai hukum zina. Apabila yang sudah menikah akan dirajam sampai mati sedangkan yang belum menikah akan dicambuk seratus kali. Dengan hukuman yang tegas seperti ini akan menjadi jaminan keamanan bagi seluruh rakyat termasuk dalam hal ini anak-anak. Maka untuk mewujudkan kondisi yang demikian harus ada upaya serius dari kita (kaum muslimin) dalam mewujudkan yaitu perjuangan menegakkan negara yang menerapkan aturan dari Zat yang menciptakan kita. [Wallohu ‘alam]

Oleh: Elsa Siregar

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: