Opini,  Tema Bebas,  WCR

BEREDAR DAGING SAPI IMITASI

Di tengah masyarakat momen-momen tertentu, seperti lebaran, Ramadan, tahun baru dan lainnya identik dengan meningkatnya konsumsi daging sehingga terjadi kenaikan harga pada bahan pokok dan bahan pangan hewani. Kelonjakan harga pasar dapat juga disebabkan oleh tingginya permintaan sementara ketersedian bahan pangan terbatas sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Hal ini mengakibatkan pedagang nakal memutar otak untuk menyediakan kebutuhan daging dengan berlaku curang, mengoplos daging sapi dengan daging lain.

Baru-baru ini kasus seperti itu terulang kembali, kali ini daging babi yang diolah hingga menyerupai daging sapi yang menghebohkan warga Bandung, parahnya pengolahan menggunakan zat kimia berbahaya yaitu boraks. Baru terungkap setelah mereka beraksi selama setahun, daging-daging ini telah terjual sebanyak 63 ton dengan harga relatif lebih murah. (tribunnews.com, 2020/05/12)

Pelaku menggunakan boraks untuk memodifikasi daging babi, penggunaan boraks mengakibatkan terjadi perubahan warna pada daging babi karena sifat basa dari boraks. Tindakan penipuan ini jelas sangat merugikan konsumen terutama kaum muslim yang jelas-jelas mengharamkan daging babi. Adanya perubahan warna pada daging membuat konsumen tertipu dan tidak menyadari bahwa yang mereka beli ternyata bukan daging sapi karena hanya mempercayai apa yang dikatakan pedagang.

Hidup di tengah peradaban kapitalis tidak serta merta kita sebagai muslim dengan mudah percaya dengan apa yang tersedia di pasaran, sehingga menuntut kita harus cerdas secara mandiri dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi. Karena sistem ini juga telah mendidik para pedagang hanya untuk sekedar meraup untung tanpa memperdulikan akibat yang ditimbulkan dari tindakkan yang dilakukanya. Oleh karena itu sangat penting kita berhati-hati dalam membeli sesuatu.

Tidak hanya dari warna, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika membeli daging:
Pertama, dari segi serat daging sapi memiliki serat lebih padat dan kaku sehingga garis-garis serat lebih terlihat. Sementara daging babi memiliki serat yang lebih lembek, garis-garis serat samar sehingga jika ditarik serat akan merenggang.

Kedua, tekstur lemak pada daging sapi elastis, basah dan sulit dilepas dari daging. Sedangkan daging babi tekstur lemak lebih kaku, lemak agak kering dan tampak berserat.

Ketiga, tekstur daging sapi lebih solid dan keras. Sementara tekstur daging babi lebih kenyal dan benyek.

Keempat, aroma daging sapi baunya lebih anyir. Bau daging babi tidak anyir seperti daging pada umumnya.

Tak hanya dari warna kita juga harus mengenali perbedaan kedua daging ini dari segi tekstur dan serat. Masyarakat harus cerdas dalam membeli, tetapi juga harus ada upaya negara untuk menjamin pangan halal dan tayyib untuk masyarakat memenuhi kebutuhannya.

/Ketersedian pangan halal dan tayyib membutuhkan regulasi/
Melakukan aktivitas perdagangan dalam Islam tidak hanya sekedar memperoleh keuntungan tetapi juga merupakan ibadah yang semata-mata meraih ridho dari Allah SWT. Berdagang untuk menyediakan pangan yang halal lagi tayyib. Pemahaman ini hanya terbentuk pada diri seseorang yang menjadikan Islam sebagai dasar berbuat. Tersedianya pangan dalam suatu negara tidak akan pernah terlepas dari kebijakan dan pengaturan oleh penguasa. Namun dalam sistem kapitalis kasus penipuan daging sapi imitasi bukan hal baru. Keadaan ini menggambarkan lemahnya posisi kaum muslim sebagai konsumen. Disisi lain lemahnya pengawasan negara dalam mengatur penyebaran pangan hewani ini di Pasaran, jikapun terjadi kecurangan hukum yang diberikan tidak kemudian membuat pelaku menjadi jera.

“Imam adalah pengurus dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Tak hanya itu sistem kapitalisme hanya akan melahirkan pedagang-pedagang yang haus materi tanpa lagi berfikir halal haramnya produk yang mereka jual.

Jika berkaca bagaimana Islam sangat menjaga rakyat dari sesuatu yang haram, diriwatkan Laits bin Abi Sulaim, bahwa Khalifah Umar bin Khaththab pernah menulis surat kepada para wali yang memimpin di daerah, beliau memerintahkan agar mereka membunuh babi dan membayar harganya dengan mengurangi pembayaran jizyah dari non muslim. Ini adalah upaya dalam rangka melindungi umat dari mengonsumsi dan memperjualkan yang diharamkan.

Tak akan ada negara yang mampu mengemban amanah ini selain dari negara yang menerapkan sistem yang berasal dari Allah SWT. Bukan negara sekuler yang acuh tak acuh dalam mengurus rakyat dalam segala hal termasuk pada menjamin tersedianya pangan halal dan tayyib. Regulasi perdagangan pangan dalam Islam sangat memperhatikan sesuatu yang akan dikonsumsi oleh rakyat, sehingga rakyat dapat memenuhi kebutuhanya tanpa rasa ragu dan was-was, karena semua tindakan penguasa didasari oleh keimanan kepada Allah.

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: