Opini,  Tema Ditentukan,  WCR

BELAJAR LURING DAN DARING, BOSAN YANG MANA?

Berada di kelas untuk mengikuti pelajaran. Seksama menerima materi yang akan disampaikan guru atau dosen, terjadi interaksi keduanya. Raga dan pikiran berdiam di ruangan, kiri kanan ada teman sejawat. Ada juga raga tetap di kelas namun pikiran membahana. Masuk kelas juga sesuka, kala tak minat kantin tempat favorit. Wajah saling diametral dengan guru atau dosen yang ceramah, maupun dengan berbagai metode mengajar. Ada yang ktritis, manut atau acuh, yang penting semua ada di kelas. Tetap harus lakukan proses berpikir agar informasi menjadi makna.

Mendapat informasi dari sebuah tool, bedanya pertemuan secara virtual, tak ada sejawat untuk sekedar senda gurau. Tempat bisa dimana saja asal ada jaringan. Silahkan jujur pada diri, belajarpun nyambi. Menuai masalah? Tentu saja, belajar daring dengan segala polemiknya masih bergulir. Butuh kuota lebih banyak, tugas lebih banyak, jaringan tiba-tiba hilang, dll. Ya, semua itu juga konsekuensi, asalkan tugas juga tak sekedar melepaskan kewajiban.

Hal ini terjadi bukan maunya sekolah atau kampus, bukan maunya murid atau mahasiswa. Ini terjadi karena memang kondisi masih berada di tengah pandemi. Saat ini kita benar-benar berdamai dengan corona dengan kebijakan new normal. Pertimbangan pembukaan sekolah baik di zona hijau masih dalam perbincangan dengan tarik ulur kebijakan, karenanya belajar daring masih terus diperpanjang dan memang harus diperpanjang.

Belajar daring benar tak seleluasa luring, mau atau tidak tetap harus dilakukan. Kebijakan saja yang new normal nyatanya corona belum benar-benar bersih. Belajar luring (luar jaringan atau offline) atau daring (dalam jaringan atau online) hanyalah metode. Bosan? Tentu saja, karena apapun yang dilakukan jika tak tau kenapa hal terbut dilakukan pasti akan bosan.

Lalu salahkah jika bosan? Tidak juga, karena sedari dulu memang terbiasa sekolah atau kuliah penggugur kewajiban. Memang tak semua tapi itu terjadi. Sistem ini mendidik sekolah atau kuliah untuk mencari kerja, sistem mendidik nilai bagus patokan utama yang penting dibutuhkan industri.

Hakikatnya belajar adalah untuk menambah informasi, membentuk pemahaman. Sebagai seorang muslim pengoptimalkan informasi akan diolah untuk kemudian menjadi pemahaman. Proses ini akan melibatkan empat komponen berfikir, informasi sebelumnya, otak, fakta dan panca indera. Andaipun hanya satu komponen ini berfungsi maka proses berfikir tetap dapat dilakukan.

Lalu, belajar luring atau daring, bosan yang mana? Keduanya bisa saja membosankan atau bisa juga salah satu yang membosankan. Bosan itu kita yang ciptakan, bosan itu juga persepsi. Bosan dengan segala turunanya adalah narasi ciptaan pemikiran jenuh dengan keadaan. Kejenuhan yang tak menemukan “kenapa” saya harus belajar. Selain ciptaan persepsi, bosan juga karena kondisi, dan karena belajar yang tidak punya tujuan. Tanya lagi pada diri sendiri sebenarnya belajar untuk apa? Nilai atau meningkatkan level berpikir?

/Belajar dalam Islam/

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913)

Islam mewajibkan laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu. Kesadaran inilah yang akan mendorong seorang muslim untuk tidak lelah belajar. Tak hanya sekedar academic knowledge, skill of thinking, management skill dan communication skill, dalam Islam tujuan pendidikan dan sistem pendidikan yang shahih adalah yang berlandaskan akidah Islam. Ilmu dunia yang berlandaskan akidah Islam akan menemukan formula untuk menyelesaikan segala persoalaan umat.

Berilmunya seorang muslim akan membuatnya tunduk pada pencipta semesta. Karenanya Islam sangat fokus terhadap permasalahan ini sehingga pendidikan akan masuk dalam regulasi kebijakan penguasa. Idealnya penguasa juga akan menyelesaikan jika terjadi kendala dan persoalan dalam proses belajar luring maupun daring. [Wallahu a’lam bissawab]

Oleh : Fira Faradillah

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: