Opini

BASA-BASI KESETARAAN UPAH INTERNASIONAL

Indonesia berperan. Pada tanggal 18 September 2020 Indonesia turut serta merayakan hari Kesetaraan Upah Internasional bersama Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Kesetaraaan upah internasional merupakan hal yang telah dikampanyekan di berbagai negara sejak lama. Sebagaimana diungkapkan oleh direktur ILO untuk indonesia, Michiko Miyamoto: “Prinsip kesetaraan upah untuk pekerjaan yang bernilai sama telah tertuang dalam Konstitusi ILO tahun 1919. Seratus tahun terlalu lama untuk menunggu dan kita semua harus bekerja sama untuk mewujudkan kesetaraan upah untuk pekerjaan bernilai sama menjadi kenyataan. ILO terus mendukung Indonesia mewujudkan kesetaraan upah di negara ini,” ungkapnya (m.kumparan.com/19/09/2020).

Hal tersebut merupakan persoalan yang dianggap penting karena sangat berkaitan dengan kesejahteraan, khususnya kesejahteraan kaum perempuan. Masih terjadi berbagai macam diskriminasi terhadap perempuan saat ini, termasuk dalam hal upah kerja bagi perempuan yang lebih rendah dari laki-laki. Maka dari itu, dengan kesetaraan upah kerja bagi perempuan dan laki-laki diharapkan persoalan kesejahteraan perempuan dalam hal ekonomi akan tersolusikan.

/Sejarah Kesetaraan Upah Internasional/
Setelah usai Perang Dunia Pertama (PD I), diselenggarakan Perjanjian Perdamain di Paris pada Januari 1919. Dalam pertemuan inilah lahir Traktat Versailles dan Liga Bangsa-bangsa. Traktat Versailles (Bab XIII Traktat Versailles) inilah dasar konstitusi The International Labour Organisation (ILO) yang didirikan pada 11 April 1919 sebagai badan otonom dari Liga Bangsa-bangsa sebagai wadah penyeru kesetaraan upah internasional. Kemudian tahun 1946 ILO masuk sebagai badan internasional PBB karena Liga Bangsa-bangsa dibubarkan pada tahun 1945.

Dalam History of The International Labour Organisation (1971), Antony Alcock menyebutkan, Konstitusi ILO dirancang Komisi Perburuhan yang terbentuk sebagai hasil Konferensi Perdamaian. Komisi Perburuhan punya 14 anggota yang berasal dari 9 negara. Dengan rincian, sebanyak 5 negara diperkenankan mengirim 2 orang. Mereka dikenal sebagai “Lima Besar” negara Sekutu, yakni AS, Inggris, Perancis, Italia, dan Jepang. Sedangkan empat negara lainnya, yakni Belgia, Kuba, Cekoslovakia, dan Polandia, diberi jatah mengirim 1 perwakilan (tirto.id/11/04/2018).

Hal yang menarik adalah terkait kepengurusan organisasi ILO yang menerapkan sistem tripatit, menempatkan pemerintah, organisasi pengusaha, dan serikat buruh dalam menentukan program dan proses pengambilan kebijakan dengan berbagi jatah, 2 suara untuk pemerintah, 1 suara untuk serikat buruh, dan 1 suara untuk organisasi pengusaha (Sistem 2-1-1).

Demikianlah sejarah singkat gagasan Kesetaran Upah Internasional. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa gagasan tersebut merupakan gagasan yang lahir dari rahim kapitalis yang diusung oleh negara-negara barat.

Meski telah puluhan tahun lamanya bahkan mencapai 100 tahun gagasan tersebut secara faktual belum mampu untuk direalisasikan sejak digagaskan.

Gagasan Kesetaraan Upah Internasional ini adalah ide khas pemikiran ideologi kapitalis, yang merupakan sumber dari paham keseteraan gender (Feminisme). Berpandangan bahwa perempuan adalah objek untuk diberdayakan dalam mencapai peningkatan perekonomian. Mendorong para perempuan untuk berbondong-bondong keluar dari rumah mereka dan masuk dalam dunia kerja, inilah yang menyebabkan para perempuan banyak mengalami diskriminasi.

Apalagi memang tenaga kerja perempuan bisa dibayar dengan biaya murah dibanding laki-laki. Hal ini menyebabkan banyak peluang pekerjaan yang akhirnya diisi oleh tenaga kerja perempuan dibanding laki-laki.

Lebih jauh menyebabkan terjadinya pertukaran peran, para perempuan yang harusnya lebih banyak beraktifitas di rumah malah keluar rumah mencari nafkah, sementara para laki-laki kehilangan pekerjaan duduk di rumah menggantikan peran perempuan. Hal ini bisa menyebabkan retaknya bangunan rumah tangga, berujung perceraian dan terbengkalainya pengurusan anak dari keluarga broken.

Sementara para kapitalis dengan pertimbangannya mendapat untung sebesar-besarnya dengan biaya produksi sekecil-kecilnya, diuntungkan dengan kondisi ini karena mendapat pekerja dengan biaya lebih murah yang mampu menekan biaya produksi. Namun para pekerja, khususnya pekerja perempuan mengalami diskriminasi dan persoalan hidup lainnya yang luar biasa.

Bagai fatamorgana di tengah terik matahari yang menyengat. Buktinya, gagasan kesetaraan upah sampai ratusan tahun belum terealisasi juga. Bisa saja sengaja tidak direalisasi karena kongkalikong pemerintah dan para kapitalis, ini mungkin sekali terjadi di masa saat ini dimana kekuasaan bisa dibeli. Benar dalam pengambilan kebijakan dengan sistem patriatit 2-1-1, namun jika terjadi kongkalikong antara pemerintah dan kapitalis maka bisa berubah menjadi 3-1, 3 untuk pemerintah dan kapitalis, 1 untuk serikat buruh. Pada akhirnya masyarakat pekerja yang gigit jari.

Semua kekacauan ini terjadi secara sistemik dan rumit. Tidak benar bahwa persoalan kesejahteraan perempuan disebabkan oleh persoalan ketidaksetaraan gender sebagaimana yang selalu digaungkan oleh pengusung feminisme buah dari kapitalisme. Feminisme pula yang getol menyuarakan bahwa hirarki budaya dan hukum agama sebagai biang keladinya, khususnya Islam yang senantiasa diserang hukum-hukum syariatnya. Sama sekali bukan!

Penyebab sesungguhnya dari ketidaksejahteraan kaum perempuan bahkan banyak masyarakat di muka bumi ini adalah karena diterapkannya sistem kapitalis-sekuler, yang seolah memperjuangkan rakyat dengan kalimat manisnya namun dibalik kata-kata yang membius itu ada ambisi untuk menghegemoni dengan cara yang buruk dan merusak, hanya berpihak pada pemilik modal yaitu para kapitalis, apapun resikonya.

Lalu benarkah persoalan diskriminasi terhadap perempuan yang massif terjadi hingga hari ini dan persoalan kesejahteraan akan tersolusikan dengan kesetaraan upah internasional, sebagaimana disuarakan oleh kapitalis? tidak akan pernah terjadi, itu hanya basa-basi! Faktanya perjuangan mewujudkan kesetaraan upah hanya dengan seremonial perayaan hari Kesetaraan Upah Internasional, sebatas wacana tidak lebih.

/Islam Memiliki Solusi Atas Persoalan ini/
Berbeda dengan ideologi kapitalis yang memandang perempuan sebagai objek untuk diberdayakan sesuai kebutuhan.

Islam memandang perempuan sebagai kemuliaan yang harus dijaga. Dengan berbagai ketentuan hukum Islam khususnya untuk perempuan, itu bukan mengekang namun untuk menjaganya.

Taklif hukum seputar ibadah seperti sholat, puasa, zakat, naik haji, maka laki-laki dan perempuan dipandang sama. Inilah Islam tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan.

Terkait peran laki-laki sebagai kepala keluarga bertugas mencari nafkah dan perempuan sebagai manajer rumah tangga dan pendidik anak-anak (generasi ummat), ini adalah penempatan yang adil sesuai potensinya.

Perempuan dalam pandangan Islam boleh untuk berkarya, bekerja di luar rumah untuk menebar manfaat di tengah manusia secara proporsional tanpa meninggalkan kewajibannya. Boleh keluar rumah untuk bermuamalah sesuai kebutuhan.

Berhak mendapatkan fasilitas umum seperti pendidikan, kesehatan, keamanan dan lainnya secara sama dengan laki-laki.

Dan Islam tidak akan membiarkan diskriminasi terjadi, khususnya diskriminasi pada perempuan. Komitmen ini benar-benar dijalankan sebagaimana tercatat dalam sejarah yang masyhur, bagaimana seorang pemimpin kaum muslim yaitu Al Mu’tashim, menyelamatkan seorang perempuan yang didiskriminasi dengan mengirimkan prajurit yang sangat banyak sebagai bentuk kesungguhannya dalam menjaga kemuliaan perempuan. Juga, dalam banyak catatan sejarah lainnya yang menunjukkan bahwa Islam berkomitmen menjaga kemuliaan perempuan.

Maka tidak ada jalan lain untuk mengakhiri berbagai bentuk diskriminasi yang terjadi dan juga untuk menyelesaikan persoalan kesejahteraan yang tergoyah saat ini, kecuali dengan menerapkan sistem Islam secara menyeluruh, dengan mewujudkan institusi penerapnya yaitu sistem Khilafah dengan dipimpin oleh seorang Kholifah.

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS Al Maidah:50)

Oleh: Ana Puspitasari, S.Pd (Praktisi Pendidikan)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: