Seputar Islam,  Tema Bebas,  WCR

AMALAN MENEMBUS LANGIT

Segala bentuk aktivitas manusia adalah untuk memenuhi kebutuhanya. Aktivitas dari ia bangun tidur hingga tidur kembali. Bayangkan 24 waktu yang Allah sediakan untuk kita, benarkah hanya ketika melakukan ibadah mahdha saja mendapat pahala? Sholat membaca Alquran, sedekah, ke masjid dan lainya, apakah hanya aktivitas itu saja yang mendatangkan pahala?

Bagaimana dengan aktivitas yang lain?

Allah Maha Penyayang dan Pengasih, tak akan pernah merugikan kita, justru kita yang selalu menjadi orang yang merugi. Semua aktivitas kita akan berbuah pahala, amalan-amalan yang kita lakukan akan menembus langit menjadi ahsanul amal atau amalan yang terbaik.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (TQS. Al Mulk: 2)

Bukankah impian kita sebagi muslim adalah agar bernilai dihadapan Allah, menjadi hamba yang memiliki amal berkualitas. Bagi seorang mukmin semua perbuatanya adalah ahsan dan bernilai pahala asalkan memenuhi dua syarat. Berdasarkan tafsir Imam Fudhail bin Iyad syarat amal terbaik adalah niatnya ikhlas karena Allah dan caranya benar.

/Pertama/ niat ikhlas semata-mata hanya untuk meraih rido Allah.  Ikhlasnya seseorang ketika ia menyatukan Islam secara sempurna dalam dirinya. Bisa saja setiap orang melakukan dua perbuatan yang sama namun akan memiliki nilai yang berbeda dihadapan Allah. Semisal, sebuah kejujuran, siapa saja pasti menyukainya karena ini adalah nilai-nilai dalam kehidupan. Jujur bernilai dihadapan Allah ya tergantung dari niatnya, apakah melakukanya ikhlas karena Allah atau hanya ingin dipandang baik karena pada dasarnya ikhlas adalah  amalan hati.

/Kedua/ caranya benar sesuai syara dan seperti yang Rasulullah contohkan. Karena berbuat tak bisa semaunya.

“…Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (TQS. Al Hasyir: 7)

Berbuat harus sesuai dengan apa yang telah Allah perintahkan.

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Sudah seharusnya seorang muslim menghindari segala bentuk aktivitas yang sama sekali tidak akan menghantarkan pada kebaikan di sisi Allah. Menjadikan Rasul sebagai tauladan, lisan, diam dan aktivitasnya adalah hukum, yang harus kita ikuti. Tak pernah amalan itu menembus langit jika berbuatnya hanya untuk dunia.

Melakukan semuanya tentu membutuhkan ilmu agar perbuatan tersebut diterima di sisi Allah. Tak ada cara selain terus belajar dan mengkaji Islam secara kaffah. [Wallahua’lam bis showab]

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: