Opini

ADA APA DIBALIK REVISI UU MINERBA ?

Koalisi masyarakat sipil menyorot langkah DPR RI yang masih menggodok sejumlah perundang-undangan, di antaranya revisi UU Minerba yang telah rampung melakukan draf inventarisasi masalah (DIM) pada akhir Februari lalu.

Bahkan baleg akan kembali melakukan rapat pembahasan revisi UU minerba dalam waktu dekat ini,” kata Dinamisator Jatam Kaltim Pradhama Rupang, salah satu perwakilan KMS Kaltim, saat konferensi pers menggunakan aplikasi Zoom, Minggu (TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA, 5/4/2020).

Ada kejanggalan ditengah pandemi yang melanda negeri ini. Anggota DPR malah sibuk melakukan revisi UU lagi, yaitu UU  Minerba, meski terjadi banyak penolakan akibat pengadaan revisi UU yang dinilai dadakan, Sedangkan rakyat sedang butuh uluran tangan.

Ternyata ada 7 mega  proyek batu bara yang segera terminasi (berakhir kontrak). Umumnya Pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) generasi pertama dengan kapasitas produk terbesar. Akhirnya negara kembali diuntungkan, apabila perpanjang kontrak disahkan negara akan mendapatkan kucuran dana segar. Wah, UUD (Ujung-Ujungnya Duit) Begitulah logikanya apabila penguasa bermentalkan pengusaha. Tugasnya, mewakilkan kesejahteraan rakyat.

Pengadaan revisi UU tersebut bertujuan, agar kaum kapitalis lebih leluasa mencaplok aset bumi pertiwi. Tak peduli nasib rakyat kecil yang menggantungkan hidupnya demi sesuap nasi, rela mengais remah-remah untuk dapat  menyambung hidup. Namun, apabila bantahan penolakan ini tidak didengarkan. Jangan salahkan bila penjara kembali sesak. Sebab, bencana kelaparan meledak.

/ Pandangan Islam Terhadap Pengelolaan SDA /

Menurut aturan Islam, kekayaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum. Kepemilikan umum ini wajib dikelola oleh negara. Hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Sebaliknya, haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu, swasta apalagi asing.

Di antara pedoman dalam pengelolaan kepemilikan umum antara lain merujuk pada sabda Rasulullah saw:

“Kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api” (HR Ibnu Majah).

Rasul saw juga bersabda:

“Tiga hal yang tak boleh dimonopoli: air, rumput dan api” (HR Ibnu Majah)

Terkait kepemilikan umum, Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan hadis dari penuturan Abyadh bin Hammal. Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa Abyad pernah meminta kepada Rasul saw. untuk dapat mengelola  sebuah tambang garam. Rasul saw lalu meluluskan permintaan itu. Namun, beliau segera diingatkan oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, tahukah Anda, apa yang telah Anda berikan kepada dia? Sungguh Anda telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (mâu al-iddu).” Rasul saw kemudian bersabda, “Ambil kembali tambang tersebut dari dia.” (HR at-Tirmidzi)

Wallahu ‘alam bii shawwab

Oleh: Sri Ariyati, SH

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: