Nafsiyah,  NulisPedia,  Tema Ditentukan,  WCR

A MEANINGFUL RAMADAN

Marhaban Ya Ramadan, tidak terasa kita akan memasuki bulan suci Ramadan 1441 H, bulan istimewa dan penuh keberlimpahan pahala. Namun, akan ada yang berbeda pada Ramadan tahun ini karena Allah tengah menguji kaum muslim seluruh dunia dengan pandemi dan dengan segala polemiknya, lantas hal ini tak boleh membuat kita surut.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (TQS Al-Baqarah: 286)

pandemi ini telah banyak mengubah kebiasan kita termasuk dalam menyabut Ramadan bahkan nanti selama Ramadan. Tak juga boleh kita sesali semua yang terjadi, apalagi mengeluh dengan keadaan. Kebijakan yang tetap di rumah harusnya dioptimalkan, apa yang bisa kita lakukan dan menyadari bahwa semua ini karena Allah. Semua ini dari Allah, kita manusia hanya mampu menerima, berusaha dan kembalikan lagi semuanya pada Allah, bukti betapa manusia itu sangat lemah dan terbatas.

Kita tetap bisa menjalani Ramadan dengan meraih segala keutamaanya maka sudah selayaknya seorang muslim bahagia menyambutnya karena Allah telah memberikan kesempatan dalam meraih kebaikan. Apa saja yang dapat kita raih selama Ramadan:

Pertama, kesempatan untuk meraih ampunan adalah harapan bagi semua muslim, tidak manusia yang tak tersentuh dosa karenanya kita tidak boleh melewatkan kesempatan yang telah Allah berikan.

“Sungguh rugi seseorang yang bertemu dengan Ramadan, lalu Ramadan berlalu dari dirinya sebelum dosa-dosanya diampuni” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim)

Tidak semua orang dapat merasakan nikmatnya Ramadan, seberapa banyak saudara-saudara kita yang pergi lebih dulu sebelum Ramadan datang. Bisa jadi mereka yang telah pergi lebih dulu telah Allah cukupkan amalanya.

“Di dalam surga itu ada satu pintu yang disebut ‘Ar-Rayyan. Pada Hari Kiamat nanti orang-orang yang berpuasa memasuki pintu itu. Tidak ada seorang pun yang memasuki pintu tersebut selain dari mereka…” (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Kedua, ada satu malam yang paling baik dari seribu bulan yaitu, malam Lailatul Qadar. Meraihnya adalah harapan seluruh kaum muslim, menghidupakanya dengan menunaikan sholat malam.

“Siapa saja yang berpuasa Ramadan karena iman dan semata-mata mengharap ridha Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Siapa saja yang menghidupkan Lailatul Qadar karena iman dan semata-mata mengharap ridha Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”  (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad)

Menjaga diri agar tetap mengikuti semua aturan yang telah Allah tetapkan. Meninggalkan segala perkara yang haram dan melalaikan.

“Puasa itu perisai. Karena itu janganlah seseorang berkata keji dan jahil. Jika ada seseorang yang menyerang atau mencaci, katakanlah, “Sungguh aku sedang berpuasa,” sebanyak dua kali. Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, bau mulut orang berpuasa lebih baik di sisi Allah ketimbang wangi kesturi; ia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya demi Diri-Ku. Puasa itu milik-Ku. Akulah yang membalasnya. Kebaikan (selama bulan puasa) dilipatgandakan sepuluh kali dari yang semisalnya” (HR al-Bukhari)

Ketiga, memaksimalkan amalan di bulan Ramadan dengan meraih pahala yang berlipat ganda dengan memperbanyak membca Alquran, amal ma’ruf nahi mungkar, sedekah, membayar zakat dan segala amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.

Keempat, jadikan Ramadan sebagai pengokoh iman. Menyadari bahwa kita manusia membutuhkan Islam secara kaffah, tak hanya sekedar agama ritual tetapi agama yang hadir dalam menuntaskan  segala problematika umat.

Semoga ini menjadi Ramadan terakhir kita tanpa Daulah Islam yang akan mengayomi seluruh umat.

Wallahu’alambishowab

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: